Ekspor minyak sawit ke Eropa (EU) dan Amerika Serikat (USA) menghadapi ancaman/hambatan perdagangan yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Resolusi sawit yang dikeluarkan Parlemen Eropa pada awal Bulan April 2017 lalu, mengancam embargo minyak sawit yang dikaitkan dengan sejumlah isu lingkungan seperti deforestasi, kebakaran hutan, emisi GHG dan gambut. Bahkan Uni Eropa merencanakan akan mengembargo penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel mulai 2021.

Amerika Serikat yang juga salah satu tujuan ekspor minyaksawit Indonesia yang sedang bertumbuh, akhir Bulan Agustus 2017 lalu merencanakan memberlakukan kebijakan anti dumping berupa Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas biodiesel sawit dari Indonesia. Tarif BMAD yang direncanakan oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat (USDOC) berkisar 34.5 – 64.73 persen. Jika kebijakan protektif tersebut benar-benar dilaksanakan akan mengancam ekspor biodiesel sawit ke negara Paman Sam tersebut.

Ancaman embargo/hambatan perdagangan sawit tersebut datang dari dua negara kawasan yang termasuk negara papan atas (top ten) emitter gas rumah kaca (GHG) global yang dikenal sebagai penyebab pemanasan global dan perubahan lingkungan. Sebagai emitter terbesar dunia, produk/komoditi apapun yang dihasilkan di daratan Uni Eropa dan Amerika Serikat dapat dikategorikan sebagai komoditi/produk emitter GHG terbesar (embodied carbon emission). Oleh karena itu, seharusnya Uni Eropa dan Amerika Serikat mendorong pengurangan konsumsi produk/komoditi yang emitter GHG tertinggi dan beralih kepada produk/komoditi yang dihasilkan dari negara emitter GHG yang lebih rendah.

Ancaman embargo/proteksi minyak sawit berasal dari negara-negara top emitter GHG dunia dan luas kebakaran hutan terbesar yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa. Emisi GHG Amerika Serikat mencapai 5,176 juta ton CO2, emisi GHG Uni Eropa mencapai 3,160 juta ton CO2 sedangkan Indonesia hanya 436.5 juta ton CO2. Artinya emisi GHG energi fosil Amerika Serikat dan Uni Eropa sekitar 9-11 kali lipat dari emisi GHG energi fosil Indonesia. Demikian juga emisi GHG pertanian Amerika Serikat sebesar 421 juta ton, Uni Eropa sebesar 389 juta ton. Sedangkan emisi GHG pertanian Indonesia hanya sebesar 168 juta ton. Artinya emisi GHG pertanian Amerika Serikat dan Uni Eropa 3-4 kali lipat dari emisi GHG pertanian Indonesia.

Luas kebakaran hutan dan lahan di USA meningkat dari 327 ribu hektar (2011) menjadi 4 juta hektar (2015) atau rata-rata 2.2 juta hektar per tahun. Sementara luas kebakaran hutan Uni Eropa dan Rusia meningkat dari 1.9 juta hektar (2011) menjadi 3.2 juta hektar (2015) atau rata-rata 2.6 juta hektar per tahun. Sedangkan luas kebakaran hutan dari 2.6 ribu hektar (2011) menjadi 261 ribu hektar (2015) atau rata-rata hanya 65 ribu hektar. Atau luas kebakaran hutan/lahan di Amerika Serikat dan Uni Eropa 35-41 kali lipat lebih luas dibandingkan dengan luas kebakaran hutan di Indonesia.

Hal ini bermakna bahwa produk-produk EU dan USA secara implisit merupakan produk beremisi karbon tinggi, berdampak kerusakan lingkungan (embodied carbon emission, embodied forest fire) dibanding dengan produk Indonesia, termasuk minyak sawit. Minyak kedelai dan minyak nabati lainnya yang dihasilkan di daratan USA dan Uni Eropa menjadi bahan baku biodiesel “lebih kotor” dibandingkan dengan minyak sawit/biodiesel sawit yang dihasilkan dari Indonesia.

Menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati/biomas produksi domestik USA dan Uni Eropa melalui kebijakan embargo dan proteksi sawit, tidak mendukung upaya penurunan emisi global bahkan mensponsori peningkatan emisi global.

416 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *