Dalam satu bulan terakhir harga bahan bakar minyak fosil (BBM) dunia telah bergerak menuju USD 80 per barrel. Meskipun IMF memperkirakan harga BBM dunia 2018 adalah sekitar USD 63 per barrel (meningkat dari rataan 2017 sebesar USD 52/barrel), banyak pengamat memperkirakan jauh diatas angka IMF tersebut bahkan ada yang memperkirakan akan menyentuh USD 90 per barrel. Bahkan sejumlah ahli mengingatkan harga BBM dunia dapat menyentuh USD 100/barrel.

Kenaikan harga BBM dunia tersebut, telah membuat negara-negara net impor BBM mulai mengkerutkan dahi menyelamatkan neraca perdagangannya. Sebab kenaikan harga BBM bukan hanya menyedot devisa makin besar untuk impor BBM, tetapi juga makin menghabiskan devisa untuk mengimpor produk-produk hilir berbasis minyak fosil.

Indonesia yang dalam 10 tahun terakhir sudah menjadi net importir BBM akan terkena dampak kenaikan BBM dunia tersebut. Setiap tahun, Indonesia mengimpor BBM solar fosil sekitar 34 juta Kl dimana separuhnya untuk konsumsi masyarakat (PSO) dan separuhnya untuk konsumsi industri.

Untung saja, Indonesia memiliki industri sawit yang terkuat di dunia. Dengan industri sawit, Indonesia dapat terhindar atau setidaknya mengurangi beban kenaikan harga BBM dunia yang sedang terjadi. Berikut ini merupakan solusi atau kombinasi yang dihadirkan industri sawit dalam menghadapi kenaikan harga BBM dunia tersebut.

Pertama, Saat ini Indonesia merupakan negara yang memiliki kapasitas pabrik biodiesel terbesar dunia dengan kapasitas produksi sekitar 13 juta Kl (Uni Eropa hanya 11 juta Kl). Dengan produksi minyak sawit sekitar 42 juta ton per tahun, Indonesia dapat menghasilkan sekitar 13 juta Kl biodiesel sawit. Dengan kapasitas yang ada setidaknya 50 persen solar impor dapat dikurangi dan diganti dengan biodiesel sawit.

Sampai saat ini baru sekitar 10 persen konsumsi total solar fosil yang kita ganti dengan biodiesel. Padahal ketersediaan produksi biodiesel di dalam negeri mampu mengurangi 50 persen solar impor.

Kenaikan harga BBM dunia yang sedang berlangsung merupakan momentum penting untuk kita manfaatkan memicu penggantian 50 persen  BBM fosil impor dengan biodiesel sawit produksi dalam negeri.

Selain itu, pemanfaatan limbah sawit seperti tandan kosong dan limbah cair pabrik kelapa sawit juga potensial untuk mengganti BBM fosil. Dari tandan kosong kita bisa hasilkan biolistrik, sedangkan dari limbah cair dengan teknologi biogas, kita bisa hasilkan biomethan (biogas) atau biolistrik. Teknologi ini sudah Banyak dikembangkan pada perkebunan sawit besar, sehingga dapat mengurangi BBM fosil dan menyediakan listrik ke masyarakat sekitarnya. Dalam jangka panjang, dari tandan kosong diharapkan dapat menghasilkan bioethanol (biopremium). Juga dari minyak sawit dapat dihasilkan butanol maupun propanol untuk mengganti pertamax fosil bahkan avtur.

Selain itu, biasanya jika harga BBM dunia naik, juga diikuti dengan peningkatan harga minyak sawit (CPO dan turunannya) dipasar dunia. Sehingga selain untuk digunakan didalam negeri, juga kita berkesempatan menaikkan penerimaan devisa dari ekspor minyak sawit. Hasil devisa ekspor sawit tersebut dapat kita gunakan untuk mengimpor kekurangan BBM fosil.

Komitmen kita bersama termasuk pemerintah perlu dikuatkan agar biofuel berbasis sawit dapat menjadi basis energi nasional khususnya menghadapi BBM fosil yang makin langka kedepan. Biofuel berbasis sawit selain dihasilkan dari bumi Indonesia, juga jauh ramah lingkungan, hemat emisi dibandingkan dengan BBM fosil yang sangat kotor itu.

306 total views, 5 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *