Kaitan  antara  ekspansi kebun sawit dengan deforestasi telah menjadi salah satu isu yang menyita perhatian publik baik di Indonesia maupun  Internasional. Perdebatan publik antara yang pro dan kontra tentang  isu tersebut sangat intensif  terutama di media maya. Sementara pada dunia nyata isu tersebut telah berwujud dalam ancaman boikot memboikot.

    Ancaman boikot minyak sawit dari Uni Eropa, aksi menghalangi kapal tanker CPO yang dilakukan salah satu NGO trans nasional,  ancaman boikot pembelian Airbus, boikot tidak menghadiri konferensi dunia tentang Land Use Changes, semuanya terkait dengan isu kaitan sawit dengan deforestasi.

Deforestasi yang diartikan sebagai konversi hutan menjadi non hutan sesungguhnya bukan hal yang baru dalam sejarah pembangunan dunia. Sejak awal peradaban mulai dari era berburu (hunting), pertanian berpindah (shifting cultivation), pertanian menetap sampai pada  era modern saat ini, tidak dapat terlepas dari  deforestasi. Kebutuhan lahan yang meningkat akibat pertumbuhan penduduk, kebutuhan pangan dan pembangunan, maka  konversi hutan menjadi non hutan menjadi hal yang lumrah terjadi setiap negara.

Studi Matthew (1983) mengungkap bahwa sejak era pra-pertanian dunia sampai tahun 1980 saja, luas deforestasi dunia mencapai sekitar 701 juta hektar dimana sekitar 653 juta hektar atau 93 persen terjadi di daerah sub-tropis (Eropa, Amerika Utara, Rusia, dll) dan sisanya 7 persen  terjadi di daerah tropis.  Lahan pertanian daerah sub-tropis, kota-kota di Eropa, Amerika Utara, Rusia, dan China merupakan hasil dari deforestasi.

    Kawasan yang belakangan berkembang juga tidak terlepas dari deforestasi. Studi European Commission (2013) memaparkan bahwa dalam periode 1990-2008 luas deforestasi global mencapai 239 juta hektar. Penyebaranya di Amerika Selatan 33 persen, Afrika 31 persen, Asia Tenggara 19 persen dan kawasan lain 17 persen. Hal yang menarik dari studi ini adalah deforestasi terbesar yakni 71 juta hektar adalah untuk ekspansi padang penggembalaan sapi (ranch) dan ekspansi kebun kedelai di Amerika Selatan.

    Di Indonesia, deforestasi juga telah berlangsung lama. Hal ini dapat ditelusuri  melalui data perubahan luas hutan yang terjadi. Dari 188 juta hektar luas daratan Indonesia, luas tutupan hutan tahun 1950 masih sekitar 162 juta hektar  atau sekitar 86 persen luas daratan  (Hanibal, 1950). Namun  pada tahun 2016, luas hutan (hutan berhutan) di Indonesia  tinggal  95.3 juta hektar atau sekitar 50.7 persen luas daratan (Statistik KLHK,2016). Sehingga  dalam periode 1950-2016  telah terjadi deforestasi seluas 66.7 juta hektar. Lahan hasil deforestasi inilah yang saat ini menjadi perkotaan, pemukiman, jalan raya, pertanian, perkebunan termasuk kebun sawit di Indonesia.

Tudingan berbagai pihak terutama dari LSM bahwa deforestasi terjadi di Indonesia ya memang benar. Statistik Kehutanan setiap tahun juga menyajikan data deforestasi di Indonesia. Namun deforestasi bukan hanya terjadi di Indonesia. Uraian diatas telah dikemukakan bahwa deforestasi merupakan fenomena normal  dan bagian dari proses pembangunan pada hampir setiap negara dunia.  Jika tidak dilakukan deforestasi, darimana diperoleh lahan untuk perkotaan, pemukiman, pertanian dan pangan?

Hal yang juga menjadi perdebatan sengit akhir-akhir ini adalah expansi kebun sawit dituduh penyebab utama deforestasi di Indonesia.  Dalam periode 1950-2016 luas kebun sawit di Indonesia  memang telah meningkat dari sekitar 0.6 juta hektar tahun 1950 menjadi sekitar 11.6 juta hektar atau meningkat 11 juta hektar. Jika dibandingkan dengan luas deforestasi selama 1950-2016 tersebut, luas areal yang digunakan untuk ekspansi kebun sawit hanya 16 persen. Sedangkan 84 persen lainnya untuk sektor-sektor lain.

Jika ditelusuri  jejak ekspansi kebun sawit di Indonesia, tampaknya  ekspansi kebun sawit juga bukan driver utama deforestasi di Indonesia. Gunarso, dkk (2012) berhasil menelusuri asal usul lahan kebun sawit di Indonesia. Kesimpulannya, ternyata hanya sekitar 3 persen lahan sawit berasal dari konversi langsung hutan produksi menjadi kebun sawit. Sedangkan sisanya berasal dari konversi lahan pertanian dan lahan terlantar (degraded land).

Karena itu, kebun sawit jelas bukan pemicu utama deforestasi bahkan secara keseluruhan kebun sawit justru suatu reforestasi. Mereforestasi degraded land, mereforestasi ekologis, mereforestasi sosial dan ekonomi. Buktinya sentra-sentra kebun sawit saat ini berkembang menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru daerah.

2,698 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *