Indonesia adalah negara yang besar, dibalik kebesarannya itu tentunya tersimpan sumber daya alam yang besar pula. Seperti halnya sumber daya alam minyak dan gas atau energi fosil yang dapat dilihat pada tambang-tambang minyak terbesar di Indonesia yaitu di Riau, Irian Jaya Barat, Sumatera Selatan, dan Jawa Timur. Minyak dan gas merupakan sumber daya alam yang tidak diperbaharui atau diperbaharui dalam jangka waktu yang sangat lama dan mengakibatkan polusi yang tentunya dapat mencemari lingkungan. Ada fakta menarik berdasarkan data dari International Energy Agency tahun 2016 bahwa total emisi gas-gas rumah kaca pada tahun 2014 mencapai 47,6 giga ton CO2. Sumber gas-gas rumah kaca tersebut sekitar 68 persen berasal dari sektor energi global, mulai dari proses produksi sampai konsumsi energi fosil. Oleh karena itu dibutuhkan energi yang dapat menggantikan energi fosil tersebut. Salah satu energi terbarukan yang dapat kita gunakan untuk menggantikan energi fosil pada saaat ini adalah biomassa yang memanfaatkan limbah padat dari kelapa sawit. Kebun sawit menghasilkan biomas sawit berupa tandan kosong (empty fruit bunch), cangkang dan serat buah (oil palm fibre and shell), batang kelapa sawit (oil palm trunk) dan pelepah kelapa sawit (oil palm fronds) (Sipayung 2017). Dengan banyaknya bagian dari kelapa sawit yang dapat diolah menjadi bahan baku biomassa tentu sudah cukup meyakinkan bahwa biomassa kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk menggantikan sebagian atau bahkan keseluruhan kebutuhan energi fosil yang selama ini kita gunakan karena selain banyak bagian yang dapat kita gunakan jumlahnya pun sangat banyak. Produksi biomas sawit tersebut sekitar tiga kali lebih besar dari produksi minyak sawit (CPO) sebagai produk sawit. Dengan luas kebun sawit Indonesia tahun 2015 sekitar 11 juta hektar, maka produksi biomas dapat mencapai 167 juta ton setiap tahun (Sipayung 2017).

Permasalahan yang dihadapi pada saat ini adalah cara pengolahan dari sumber daya yang sudah tersedia haruslah mumpuni. Pengolahan yang mumpuni yang dimaksud adalah cara supaya energi tersebut tidak hanya menjadi pengganti energi fosil yang selama ini telah dipakai melainkan cara pada saat pengolahan supaya bahan tersebut tidak menimbulkan polusi seperti energi fosil saat ini karena jika ditinjau dari polusi pada saat pemakaian bahan bakar yang dihasilkan dari biomas tentu akan lebih ramah lingkungan ditinjau dari efek ketika sudah menjadi bahan bakar. Pengolahan yang dimaksud adalah meminimalisir terjadinya polusi ketika tahap-tahap merubah dari biomas menjadi bahan bakar terbaharukan. Pertama adalah saat pemanasan biomas limbah kelapa sawit, pada proses ini akan menghasilkan material dari sisa pembakaran yang tentunya jika tidak ditindaklanjuti dengan tepat akan sama saja dengan polusi yang diakibatkan energi fosil. Kedua adalah cara membuat boiler yang cukup untuk menampung biomas yang mencapai berjuta-juta ton tersebut banyaknya, boiler sendiri adalah tempat untuk melakukan pembakaran yang bahannya harus kuat dan tahan panas karena akan melakukan operasi dengan suhu yang sangat tinggi, bahan yang dibakar tentunya limbah kering kelapa sawit yang akan diubah menjadi bahan bakar yang terbarukan.

Menindaklanjuti permasalahan yang ada, dapat dilakukan baik oleh pihak yang akan mengelola biomas dan juga pemerintah dapat ikut serta andil untuk mengatasi permasalahan yang ada. Solusi untuk permasalahan pertama atau permasalahan mengenai material sisa pembakaran biomas kelapa sawit yaitu dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan lebih lanjut yaitu dengan cara meningkatkan kinerja pemisahan material sisa supaya material tersebut dapat terperangkap di dalam sistem dan tidak keluar mencemari lingkungan, selain itu material sisa pembakaran biomas kelapa sawit juga masih bisa dimanfaatkan untuk pembuatan briket. Permasalahan kedua dapat diatasi dengan cara menyediakan tidak hanya satu boiler melainkan banyak boiler yang tersebar di berbagai tempat dengan tujuan supaya biomas dari kelapa sawit dapat diolah di berbagai tempat yang menjadi penghasil biomas kelapa sawit, tidak hanya terfokus pada satu tempat karena jika hanya terfokus satu tempat akan sulit untuk mengolahnya, di samping itu jarak pengangkutan biomas dengan tempat pengolahan tentu akan menimbulkan permasalahan baru yaitu mengenai biaya dan juga waktunya. Karena obor besar yang dinyalakan di satu tempat saja di Indonesia tidak akan dapat menerangi keseluruhan Negeri ini melainkan lilin yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara yang justru akan menerangi Negeri ini. Penjelasan mengenai solusi untuk mengatasi dampak dibuatnya energi dari biomas masih sangatlah banyak dan sangat kompleks, tidak dipaparkan secara keseluruhan karena keterbatasan pengetahuan penulis dan metode yang digunakan juga hanya bersumber dari buku atau sumber referensi lain, tidaklah didapat dari percobaan yang benar-benar dapat dibuktikan dengan pasti. Untuk itu diharap pembaca dapat mengoreksi jika memang terdapat kesalahan dalam artikel ini karena belum tentu keseluruhan isinya merupakan suatu kebenaran.

 

Muhammad Kurniawan – Peserta Penulisan Artikel Tema Peran Sawit dalam SDGs di Institute Pertanian Bogor

375 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *