Indonesia mungkin bisa berbangga dengan menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak tahun 2006. Namun di sisi lain, sejak tahun yang sama Indonesia sudah menjadi net importer Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil. Konsumsi bahan bakar fosil nasional masih cukup besar karena salah satu penyebabnya adalah komposisi pembangkit listrik Nasional masih banyak bersumber dari bahan bakar fosil/PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).

Saat ini Indonesia mulai menggunakan minyak sawit sebagai pengganti bahan bakar solar pada PLTD. Secara teknis memang PLTD milik PLN dapat menggunakan CPO sebagai bahan bakarnya setelah CPO tersebut dipanaskan mencapai suhu tertentu agar memiliki karakter seperti solar fosil. Oleh sebab itu, Kementerian ESDM dan Kementerian BUMN mendorong PLN untuk mulai memanfaatkan CPO sebagai bahan bakar pada PLTD miliknya. Penggunaan minyak sawit pada PLTD akan menghemat impor solar fosil, semakin memperluas pasar CPO di dalam negeri dan dapat berdampak pada peningkatan harga CPO dan harga TBS petani. Namun implementasinya harus tetap memperhatikan kondisi mesin PLTD yang kompatibel dengan CPO dan harga CPO yang berfluktuatif sehingga biaya produksi tidak lebih mahal dari pada penggunaan bahan bakar solar.

Potensi kelapa sawit sebagai bahan baku pembangkit listrik tidak hanya dengan pemanfaatan CPO sebaga bahan bakunya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biomassa atau limbah padat kelapa sawit dan limbah cair kelapa sawit juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit energi listrik di Indonesia. Siregar et al. 2017, menjelaskan bahwa mesin PLTBm kelapa sawit dengan kapasitas 25 kW dapat dimanfaatkan untuk penyediaan listrik pada 1 desa atau sekitar 25 rumah penduduk di daerah-daerah terisolasi dari jaringan listrik PT.PLN (Persero). PLTBm kelapa sawit ini sangat potensial dikembangkan di Indonesia sejalan dengan adanya upaya pemerintah dan BPDP Kelapa Sawit untuk melaksanakan program replanting, dimana sebanyak 136 – 145 pohon kelapa sawit tua per hektar dapat digunakan sebagai bahan bakar PLTBm daripada pohon kelapa sawit tersebut dibakar.

Siregar et al. (2017), juga melakukan penelitian untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) pada beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Pada Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Cot Girek-Kabupaten Aceh Utara dengan kapasitas pabrik 45 ton TBS/jam, diperoleh hasil perhitungan daya listrik yang dapat dibangkitkan sebesar 1,04 MWe. Sementara pada PKS Mopoli Raya Gedong Biara Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang dapat membangkitkan daya listrik sebesar 0,96 MWe untuk kapasitas efektif pabrik 38 ton TBS/jam. Dengan demikian untuk Propinsi Aceh dengan jumlah PKS yang sudah efektif beroperasi sebanyak 26 buah, maka akan didapat potensi listrik sebesar 26 MWe. Dengan demikian, apabila teknologi PLTBg ini dapat diaplikasikan maka kehandalan listrik di Propinsi Aceh akan teratasi, sehingga arus investasi juga akan semakin besar. Begitu juga dalam skala nasional, Indonesia memiliki potensi menghasilkan energi listrik sebesar 702 MWe melalui teknologi methane capture yang diaplikasikan pada 702 PKS seluruh Indonesia, dengan asumsi sesuai hasil penelitian bahwa 1 PKS dapat memproduksi minimal 1 MWe. Oleh sebab itu, melalui pengoptimalan potensi yang dimiliki kelapa sawit, Indonesia mampu menjaga stabilitas ketahanan energi nasional.

1,380 total views, 5 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *