Dalam tiga tahun terakhir harga minyak mentah dunia merangkak naik. Pada akhir tahun 2016 lalu, harga minyak mentah (U.K Brent) masih sekitar 37 dollar AS per barrel, meningkat lebih dari dua kali lipat  yakni menjadi sekitar 76 dollar AS pada akhir bulan Mei 2018.

Kenaikan harga minyak mentah tersebut juga menggerek naik harga solar dunia. Pada bulan  Desember 2016  harga solar  masih sekitar  0.43 dollar AS per liter, akhir bulan Desember 2017 naik menjadi 0.51 dollar AS.  Pada akhir bulan Mei 2018 saja, harga solar dunia telah  bertengger pada level 0.58 dollar AS.  Tidak tertutup kemungkinan harga solar dunia akan  menembus level 0.6 dollar AS per liter pada akhir tahun.

Ketergantungan pada impor  BBM  dan disertai oleh meningkatnya  harga BBM di pasar dunia tersebut, membuat defisit perdagangan migas makin membengkak. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa  neraca perdagangan migas tahun 2016 masih mengalami  defisit sekitar 5.6  miliar dollar AS. Pada tahun 2017 defisit neraca perdagangan migas makin  membengkak  menjadi 8.6  miliar dollar AS atau naik sekitar 53 persen  dibandingkan defisit  tahun 2016.

Defisit perdagangan migas ini tampaknya masih meningkat pada tahun 2018 ini. Selama  5 bulan pertama  yakni  bulan Januari- Mei 2018 saja,  defisit neraca migas telah  mencapai 5.03 miliar dollar AS atau  meningkat sekitar 36 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017. Defisit  migas ini  telah menguras cadangan devisa. Menurut laporan Bank Indonesia, cadangan devisa telah berkurang dari sekitar 130,2 miliar dollar AS akhir bulan Desember 2017 menjadi 119,8 milliar  dollar AS pada akhir bulan Mei 2018. Sekitar 10 milliar dollar AS cadangan devisa tergerus hanya dalam waktu 5 bulan.

Jika tidak dilakukan langkah-langkah strategis dan segera yang dapat mengurangi impor migas, defisit migas tersebut dapat  mencapai sekitar 12 miliar dollar AS  pada akhir tahun. Bila hal ini terjadi, bakal menggerus cadangan devisa yang lebih besar lagi.

Untuk mengurangi defisit migas dalam jangka pendek,  memang tidak banyak pilihan-pilihan kebijakan yang tersedia bagi pemerintah.  Barangkali, kebijakan yang tersedia saat ini adalah memperluas kebijakan mandatori biodiesel yang telah dijalankan pemerintah selama ini.

Kebijakan mandatori biodiesel B20  telah berhasil dilakukan pemerintah pada tahun 2017 lalu. Sekitar  20 persen konsumsi  solar subsidi (PSO) telah digantikan oleh biodiesel yang dihasilkan dari dalam negeri.  Meskipun mandatori biodiesel B20  masih terbatas pada segmen konsumsi  solar subsidi yang porsinya  sekitar  50 persen dari total konsumsi solar nasional,  telah mampu menghemat  sekitar  2,6 juta k.l impor solar nasional.

Untuk mengurangi defisit migas yang lebih besar, kebijakan  B20 tersebut  perlu diperluas ke segmen solar industri (non PSO) yang volumenya juga sekitar 50 persen dari konsumsi total solar nasional. Berbeda dengan konsumen solar PSO yakni sektor  transportasi publik, segmen konsumen solar non PSO ini merupakan  konsumen mampu/kaya sehingga mandatori B20 bahkan B30  akan mudah dilakukan tanpa harus dengan subsidi.

Perluasan mandatori biodiesel tersebut sangat layak dilakukan saat ini. Kebutuhan solar nasional tahun 2018 ini diperkirakan sekitar 38 juta k.l. Jika kebijakan B20 dilaksanakan baik PSO maupun non PSO, biodiesel yang dibutuhkan hanya  sekitar 7.6 juta k.l. Kebutuhan biodiesel tersebut masih  dapat pasok  dari kilang-kilang biodiesel domestik yang saat ini memiliki kapasitas sekitar 12 juta k.l. Bahan baku biodiesel juga tersedia lebih dari cukup dari dalam negeri, karena hanya sekitar  20 persen dari 42 juta ton  produksi minyak sawit nasional  tahun 2018 ini.

Jika perluasan  B20 tersebut dilaksanakan pemerintah, akan dapat  menghemat sekitar 7.6 juta k.l impor solar atau menghemat devisa untuk impor solar sekitar 4.5 miliar dollar AS. Selain itu, perluasan B20 juga menghemat emisi karbon yang juga menjadi salah satu target pemerintah di sektor  Lingkungan Hidup.

Manfaat yang tak kalah pentingnya, perluasan  mandatori biodiesel tersebut akan memperbesar daya serap minyak sawit dalam negeri. Harga minyak sawit dunia yang sedang rendah  saat ini, diperlukan peningkatan penyerapan minyak sawit dalam negeri  untuk  mendongkrak  harga buah sawit rakyat yang tersebar pada 200 kabupaten.

345 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *