Berdasarkan data proyeksi United Nations (2017), penduduk dunia akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya hingga mencapai 8.55 miliar jiwa pada tahun 2030 dan mencapai 9.5 miliar jiwa pada tahun 2045. Pertumbuhan jumlah penduduk tersebut sebagian besar terjadi pada negera – negara berkembang di Asia dan Afrika. Penduduk Indonesia juga diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 317 juta jiwa pada tahun 2045. Dampak dari peningkatan pertumbuhan penduduk ini adalah meningkatnya permintaan terhadap bahan pangan, kimia, dan energi termasuk produk – produk hilir kelapa sawit.

Perkembangan produk – produk inovatif dari kelapa sawit juga berkontribusi mendorong peningkatan kebutuhan minyak sawit. Salah satu produk inovatif dari kelapa sawit yang sangat potensial dikembangkan dan diproduksi dengan skala komersial adalah biohidrokarbon sawit yang mampu menghasilkan green diesel pengganti solar fosil, green gasoline pengganti bensin, dan green avtur pengganti avtur fosil. Produk inovatif ini diperkirakan akan mulai diproduksi dengan skala industri di Indonesia pada tahun 2020 dan akan membutuhkan minyak sawit dalam jumlah yang besar. Pada tahun 2020 diperkirakan kebutuhan CPO untuk produksi biohidrokarbon sebesar 18.47 juta ton, dan terus meningkat hingga mencapai 35,76 juta ton pada tahun 2025. Sementara kebutuhan PKO yang khusus digunakan untuk produksi green avtur akan mencapai 1,01 juta ton pada tahun 2025.

Jika melihat kondisi pangsa pengusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini masih didominasi oleh perusahaan swasta dengan pangsa 54.4 persen. Perkebunan sawit rakyat memiliki pangsa 40.6 persen, sedangkan perkebunan negara hanya memiliki pangsa sekitar 5 persen dari total luas areal perkebunan sawit di Indonesia. Pangsa kebun sawit rakyat memang sudah cukup besar dan berkembang pesat sejak keberhasilan program kemitraan yang dimulai pada tahun 1980-an. Namun kebun sawit rakyat masih menghadapi masalah rendahnya produktivitas, sehingga membutuhkan perhatian khusus untuk pembangunan industri sawit nasional di masa depan.

     Tantangan masa depan berupa kebutuhan minyak sawit yang terus meningkat, pembangunan berkelanjutan, dan ketahanan energi, membutuhkan perbaikan kebun sawit rakyat untuk memenuhi tantangan yang akan dihadapi tersebut. Produktivitas kebun sawit rakyat secara teoritis dapat ditingkatkan melalui 2 mekanisme yaitu perbaikan kultur teknis pada kebun sawit eksisting dan peremajaan (replanting) pada kebun sawit yang tergolong umur tua. Kombinasi kedua mekanisme ini akan harus dilakukan terus menerus untuk mencapai tingkat produktivitas yang optimal pada kebun sawit.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produksi biohidrokarbon, kebun sawit rakyat dapat diposisikan sebagai dedicated area yang hasil produksi minyak sawitnya khusus digunakan untuk produksi green diesel, green gasoline, dan green avtur. Untuk melaksanakan fungsi ini, kebun sawit rakyat dapat dibina oleh perkebunan sawit negara yang berperan untuk melatih petani dalam melakukan kultur teknis kebun kelapa sawit yang sesuai standar. Transfer ilmu dan teknologi dari perkebunan negara ini akan membantu petani meningkatkan produktivitas kebun sawitnya. Sementara perusahaan swasta tetap dibiarkan berkembang dalam menghasilkan produk – produk hilir kelapa sawit berupa bahan pangan dan bahan kimia yang dibutuhkan masyarakat.

865 total views, 22 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *