Industri sawit kini kian tertantang. Para pelaku industri kelapa sawit nasional memiliki sejumlah tantangan. Pada tahun 2019, ancaman ketidakpastian hukum dalam keberlanjutan perkembangan industri sawit dikarenakan adanya regulasi yang tidak berpihak serta maraknya kampanye hitam (black campaign) kian mengancam industri kelapa sawit dalam negeri. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan menciptakan inovasi yang dapat mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit.

Inovasi teknologi merupakan langkah yang harus diambil di era 4.0 untuk memajukan sektor industri kelapa sawit. Di era 4.0, pekerjaan manusia mulai tergantikan oleh kinerja mesin yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Saat ini, telah muncul sebuah paradigma baru di dalam industri kelapa sawit yang disebut Palm 5.0. Dimana prinsip kerjanya yaitu dengan menerapkan Teknologi Novel Algae. Banyaknya limbah hasil pengolahan kelapa sawit harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Tahun ini, Jepang sudah mengaplikasikan Teknologi Algae untuk mengolah limbah cair sawit menjadi produk yang bernilai tinggi dan mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan.

Namun pertanyaannya, siapkah Indonesia untuk menerapkan sebuah terobosan besar ini guna meminimalisir limbah hasil pengolahan kelapa sawit ? Terdapat permasalahan utama bagi Indonesia untuk menerima teknologi terbaru di bidang industri kelapa sawit yaitu kualitas sumber daya manusia. Terbatasnya sumber daya manusia yang berkualitas menyulitkan Indonesia untuk beradaptasi dengan transfer teknologi yang terjadi di era Revolusi Industri 4.0. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, maka dapat dikatakan bahwa teknologi Indonesia masih lemah dan sangat terbatas sehingga kurang mendukung dunia industri.

Saat ini, sebenarnya sudah ada peraturan menteri riset dan pendidikan tinggi Republik Indonesia no. 42 tahun 2016 tentang pengukuran dan penetapan tingkat kesiapan teknologi (Technology Readiness Level). Berdasarkan undang-undang tersebut seyogyanya seluruh elemen di bidang pendidikan dan teknologi harus berkolaborasi untuk merumuskan grand design kebijakan strategis untuk meningkatkan daya saing teknologi di Indonesia pada era 4.0.

Peluang bisnis dalam industri kelapa sawit sangat menjanjikan keuntungan, meski di tengah black campaign yang terus-menerus menyerang industri kelapa sawit. Untuk menjawab serangan hitam tersebut, maka Indonesia harus berani melakukan inovasi pada sisa hasil pengolahan kelapa sawit berupa limbah untuk dijadikan sebagai produk yang bernilai tambah berupa DHA. Untuk mewujudkan hal ini maka diperlukan peran semua stake holder di bidang industri kelapa sawit untuk menerapkan strategi penggunaan teknologi Palm 5.0.

Besarnya kontribusi kelapa sawit terhadap perekonomian bangsa Indonesia harus menjadi pertimbangan untuk menerapkan teknologi Palm 5.0. Industri minyak sawit merupakan industri strategis Nasional di dalam perekonomian secara makro. Dapat dikatakan bahwa industri minyak sawit memberikan sumbanagan devisa terbesar bagi Negara Indonesia. Bahkan, industri kelapa sawit juga dapat mendukung kedaulatan energi serta penyerapan tenaga kerja. Secara umum industri kelapa sawit memberikan pengaruh signifikan dalam menurunkan angka kemiskinan Nasional khususnya di daerah-daerah pinggiran/pelosok. Maka dari itu, dengan memanfaatkan teknologi algae dapat mendukung kemajuan bangsa Indonesia.

Sekali lagi, apa sebenarnya kendala Indonesia untuk bisa menerapkan teknologi Algae ? Padahal kita ketahui bahwa dengan pemanfaatan teknologi algae akan menguntungkan Indonesia. Setidaknya ada beberpa poin penting jika Indonesia menerapkan teknologi Algae atau menerapkan Palm Oil Mill Efluent. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa dari 130 juta ton pada 2030 dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk menghasilkan DHA yang berkualitas dengan harga yang tinggi. Selain itu, output yang paling penting dari pemanfaatan limbah kelapa sawit yakni dijadikan biofuel sebagai solusi energy terbarukan di era revolusi industri 4.0.

Dewasa ini, limbah pertanian harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk dijadikan produk yang bernilai tambah. Penggunaan teknologi yang selama ini masih masif harus segera diatasi dengan pengadaan teknologi-teknologi yang dapat mendukung terealisasinya aplikasi teknologi algae di Indonesia. Sehingga Palm 5.0 yang dicanangkan dapat terwujud, dan industri kelapa sawit dapat berjaya di era 4.0 bagi bangsa Indonesia.

 

Raju Pratama Ritonga – Universitas Sumatera Utara

472 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *