Sejak disepakatinya Sustainable Development Goals oleh para pemimpin dunia pada tahun 2015 dalam dokumen berjudul “Transforming Our World : The 2030 Agenda for sustainable“. Pengesahan tersebut menjadi efek domino yang positif pada hampir semua sektor. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan mulai mengubah arah kebijakan-kebijakan agar berkontribusi dalam pencapaian SDG’s tersebut.

Tidak terkecuali sektor perkebunan di Indonesia. Industri-industri perkebunan, berlomba-lomba agar menciptakan industri berkelanjutan yang mendukung SDG’s. Salah satu komoditas perkebunan yang menjadi komoditas unggulan di Indonesia, yaitu Kelapa sawit, turut mengambil tindakan untuk berkontribusi dalam pencapaian SDG’s.

Industri kelapa sawit sendiri sebenarnya sudah cukup lama memikirkan dan menerapkan industri yang berkelanjutan, baik dari segi linkungan, ekonomi dan berbagai aspek lainnya. Salah satu bentuk perwujudannya adalah ISPO atau Indonesian Sustainable Palm Oil. Sebagai standar agar industri kelapa sawit menjadi industri kuat yang berkelanjutan disegala aspek.

Dari aspek ekonomi, Industri kelapa sawit berperan penting dalam kemajuan ekonomi Indonesia, dimana  pada devisa ekspor yang dihasilkan dari produk kelapa sawit pada tahun 2017 mencapai 21,25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 287 triliun. Dan menurut Bambang, Sepanjang 2017 lalu, Bambang Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian mengatakan bahwa produksi crude palm oil (CPO) sebesar 37,8 juta ton CPO, dan luasan perkebunan sawit saat ini mencapai 14,03 juta hektar, dan sebesar 40 persen merupakan perkebunan rakyat (PR).

Fakta bahwa 40% merupakan perkebunan rakyat, hal tersebut berarti industri kelapa sawit bukan hanya milik perusahaan-perusahaan besar, tapi juga milik rakyat dan terjadi penggeliatan ekonomi pada rakyat. Industri sawit di Indonesia sendiri tersebar dalam +-190 kabupaten. Hal tersebut berarti, ada +-190 kabupaten termasuk desa-desanya yang memiliki pergerakan ekonomi yang terus meningkat sebagai dampak positif dari industri sawit.

Industri kelapa sawit juga membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi rakyat. Sebanyak 16,2 juta orang tenaga kerja dengan rincian 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung terserap dalam industri kelapa sawit, yang berarti turut mengurangi pengangguran dan memberikan lapangan pekerjaan di Indonesia.

Selain itu, dengan ada banyaknya tenaga kerja di industri sawit, hal ini juga membuka peluang-peluang usaha baru bagi petani sawit, warga setempat dan juga UMKM. Data statistik Kementan 2015, menampilkan bahwa pertumbuhan unit usaha petani sawit di Indonesia meningkat pesat dari 142 ribu unit usaha yang tersebar, menjadi 2,3 juta unit dalam kurun waktu yang relatif singkat. Warung-warung makan dibuka, usaha kebutuhan alat tulis kantor milik warga, koperasi, dan lain sebagainya. Hal tersebut membantu menghidupkan pergerakan ekonomi di desa-desa. Dan turut mensukseskan aspek SDG’s yaitu good jobs and economic growth.

Pertumbuhan ekonomi juga berbanding lurus dengan aspek-aspek kemanusiaan dalam pencapaian SDG’s yaitu No poverty, no hunger, good health, quality education. Dengan adanya pergerakan ekonomi di desa-desa yang semula terpencil, hal tersebut akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Banyaknya tenaga kerja terserap, usaha-usaha yang berkembang, juga berdampak pada berkurangnya kemiskinan, kelaparan, meningkatnya angka kesehatan dan pendidikan.

Meninjau dari aspek SDG’s lainnya yaitu innovation and infrastructure. Industri kelapa sawit justru mengurangi kesenjangan-kesenjangan di innovasi dan infrastruktur desa dan kota yang awalnya terjadi. Dibukanya akses transportasi desa ke kota sehingga menjadi lebih mudah, lalu, dibangun sekolah-sekolah, dan lain sebagainya.

Lalu, tentang isu-isu lingkungan, industri kelapa sawit sendiri telah memikirkan tentang keberlanjutan lingkungan sendiri dengan memberlakukannya ISPO. ISPO memastikan industri kelapa sawit yang dijalankan itu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan. Selain itu, produk turunan dari kelapa sawit itu sendiri, yaitu Biodiesel sangat berperan penting untuk membantu memenuhi kebutuhan energi, dan mengurangi penggunaan energi dari fosil yang suatu saat akan habis.

Dengan adanya Industri Kelapa sawit yang digaungkan sebagai komoditas unggulan Indonesia, berkontribusi aktif dalam proses pencapaian Sustainable development goals. Dan harapannya kedepan akan dapat lebih baik lagi sehingga pada tahun 2030, cita-cita besar SDG’s itu benar-benar tercapai.

 

Tisa Monita – Universitas Sriwijaya

309 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *