Agusriansyah Saputra – Juara 1 Lomba Penulisan Artikel Tema Peran Sawit dalam SDGS di Universitas Sriwijaya

 

Lahan gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari timbunan bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan jasad hewan yang membusuk. Indonesia memiliki luas lahan gambut terbesar kedua di dunia dengan luas mencapai 22,5 juta hektar dan Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki lahan gambut terbesar di Indonesia. Hal ini berdasarkan data dari Indonesian National Carbon Accounting System 2011 yang menyatakan bahwa Sumatera Selatan memiliki luas lahan gambut sebesar 1.262.000 ha. Luas lahan gambut yang signifikan tentu harus dioptimalisasikan dengan baik.

Lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari lahan lainnya, untuk itu tidak semua tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan gambut. Daya penyaluran air vertikal (ke atas) yang sangat lambat, kondisi kering tak balik, daya tumpu rendah, penurunan permukaan tanah, pH asam dan kesuburan rendah yang menjadi kelemahan lahan tersebut. Berdasarkan kedalamannya lahan gambut dapat dibedakan menjadi lahan gambut sangat dangkal dengan ketebalan <50 cm, lahan gambut dangkal dengan ketebalan 50-100 cm, lahan gambut sedang dengan ketebalan100-200 cm  dan lahan gambut dalam dengan ketebalan 200-400 cm. Di daerah Sumatera Selatan banyak terdapat lahan gambut sedang dengan ketebalan 100-200 cm dengan luas mencapai 934.045 ha pada tahun 2002. Area penyebaran  lahan gambut di Sumatera Selatan meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Banyuasin, Muara Enim, Penungkal Abab Lematang Ilir, Musi Banyuasin, dan Musi Rawas. Namun sayangnya, pada tahun 2016 Sumatera Selatan mengalami kebakaran lahan gambut yang sangat hebat. Hal ini menyebabkan terganggunya aktivitas manusia, diantaranya pemerintah harus meliburkan sekolah, terhambatnya kegiatan berlalu lintas, bahkan mengganggu sistem pernapasan pengendara. Semua ini merupakan dampak nyata dari kebakaran lahan gambut yang mencemari udara.

Kelapa sawit merupakan tumbuhan yang memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di lahan gambut karena dapat tumbuh dalam kondisi pH asam dan tingkat kesuburan yang rendah. Bukti empirisnya dapat dilihat di Pesisir Timur Sumatera Utara dimana ratusan ribu hektar kebun sawit di lahan gambut telah dikembangkan petani dan korporasi sejak 100 tahun lalu sampai saat ini. Minyak kelapa sawit dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak nabati sebagai bahan pangan utama yang banyak digunakan di dunia. Produksi minyak kelapa sawit sangat efisien, dimana 1 hektar tanah dapat menghasilkan minyak nabati lebih banyak dari bahan lainnya. Selain itu (PASPI, 2014), secara umum pendapatan petani sawit lebih tinggi dari pada pendapatan petani non sawit, bahkan secara rataan pendapatan petani sawit juga bertumbuh lebih cepat. Pendapatan petani sawit meningkat dari Rp. 14 juta/hektar/tahun (2009) menjadi Rp. 31 juta/hektar/tahun (2013), sementara pendapatan petani non sawit (petani padi dan petani karet) hanya meningkat dari 4,6 juta/hektar/tahun menjadi 7,2 juta/hektar/tahun pada periode yang sama. Industri minyak kelapa  sawit di Indonesia, diperkirakan telah menciptakan 17,5 juta lapangan pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan menyumbang 319 triliun rupiah dari nilai ekspor setiap tahunnya.

Peningkatan produktivitas kelapa sawit dapat memberikan kontribusi terhadap percepatan pencapaian SDGs. Hal ini disebabkan beberapa tujuan yang ada di dalam SDGs dapat dicapai dengan memanfaatkan lahan gambut menjadi lahan optimal yang digunakan untuk produktivitas kelapa sawit. Tujuan No. 1, No Poverty (tanpa kemiskinan), yakni menuntaskan kemiskinan di segala tempat. Menurut Dono Boestami selaku Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Tingkat kemiskinan di Indonesia telah berkurang  signifikan dari 60% pada 1970 menjadi 9,82% pada Maret 2018. Selain itu, Koefisien GINI juga menurun dari 0,4 menjadi 0,3 dalam tiga tahun terakhir. Sejak tahun 2000, ekspansi kelapa sawit secara langsung membantu 10 juta orang keluar dari kemiskinan dan 1,3 juta orang di antaranya berada di pedesaan. Tujuan No. 3, Good Health and Well-Being, (kehidupan sehat dan sejahtera), yakni menggalakkan hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia. Berkembangnya industri kelapa sawit, berkembang pula sarana dan prasarana dasar seperti pusat layanan kesehatan. Tujuan No. 2, Zero Hunger (tanpa kelaparan), yakni mengakhiri kelaparan, dengan adanya  peningkatan produktivitas kelapa sawit memberikan pasokan cukup  bagi industri makanan, termasuk minyak goreng dan olahan lainnya. Tujuan No. 13, Climate Action (penanganan perubahan iklim), yakni mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya. Kelapa sawit memiliki kemampuan menyerap karbondioksida dari atmosfer, sehingga dapat mengurangi emisi yang ada di bumi. Selain itu produktivitas kelapa sawit mendukung moratorium hutan primer dan mendukung penanganan pencegahan kebakaran hutan.

Tujuan No. 8, Decent Work and Eonomic Growth (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), yakni membangun pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, menciptakan lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua. Sebagai industri kaya akan olahan, tentu memerlukan pekerja yang tidak sedikit sehingga menyediakan lapangan pekerjaan bagi jutaan orang. Selain itu, sektor kelapa sawit juga memberikan kontribusi terhadap tujuan No. 17, Partnership for The Goals (kemitraan untuk mencapai tujuan), yakni menghidupkan kembali kerja sama global demi pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dikatakan lahan gambut mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit. Maka dari itu diharapkan pemerintah, masyarakat, serta petani mampu berkerja sama dalam memanfaatkan lahan gambut menjadi lahan optimal produktivitas kelapa sawit guna mempercepat laju pencapaian SDGs yang akan meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.

 

*artikel telah dimuat di :

https://sahabatpetani.com/2019/08/29/optimalisasi-lahan-gambut-melalui-peningkatan-produktivitas-kelapa-sawit-di-sumatera-selatan-sebagai-solusi-percepatan-pencapaian-sdgs/

Palembang Ekspress

329 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *