Pemerintah terhitung sejak tanggal 1 September 2018 mengambil langkah strategis melalui perluasan mandatori biodiesel yakni pencampuran wajib 20 persen biodiesel sawit pada konsumsi seluruh  jenis solar/diesel di Indonesia baik PSO maupun non PSO.  Kebijakan tersebut melanjutkan B20 sektor PSO yang sudah dimulai sejak tahun 2016 lalu. Dengan perluasan B20 tersebut maka semua jenis bahan bakar diesel harus mengandung 20 persen biodiesel sawit.

Kebijakan perluasan B20 tersebut dinilai sangat strategis dan memberi berbagai manfaat baik manfaat ekonomi, sosial maupun lingkungan. Dari segi ekonomi, pencampuran biodiesel sawit dalam konsumsi solar nasional berdampak langsung pada pengurangan impor solar.  Tahun 2018 ini konsumsi total solar/diesel di Indonesia mencapai sekitar 38 juta k.l sehingga dengan mencampur 20 persen biodisel kita menghemat impor solar sebesar 7.6 juta k.l per tahun. Dengan harga diesel rata-rata dunia USD 1.4 per liter, maka penghematan devisa impor solar bisa  mencapai  USD 10.6 milyar per tahun. Jelas devisa sebesar ini dapat memperbaiki neraca perdagangan migas nasional yang selalu defisit.

Pencampuran solar impor dengan biodiesel sawit domestik merupakan suatu kebijakan subsitusi impor energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Penggunaan biodiesel sawit yang bersifat dapat diperbaharui (renewable energy) sebagai pengganti energi diesel yang tidak dapat diperbaharui (non renewable energy) merupakan langkah tepat untuk membangun ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.

Kebijakan subsitusi solar impor dengan biodiesel sawit juga memperkuat basis pasar minyak sawit domestik. Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, basis pasar minyak sawit domestik perlu ditumbuhkan secara berkesinambungan agar Indonesia dapat menjadi pemimpin pasar minyak sawit dunia dan tidak tergantung pada pasar negara tertentu.

Dari sisi sosial, bahan baku biodiesel sawit yakni CPO dihasilkan oleh kebun  sawit  pada 200 kabupaten pelosok di Indonesia, dimana sekitar 42 persen adalah sawit rakyat. Berbagai riset membuktikan bahwa perkebunan sawit berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan. Peningkatan penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar (biodiesel) akan menggerek harga TBS petani sawit  pada 200 kabupaten sentra sawit sehingga meningkatkan gairah petani untuk meningkatkan produktivitas  serta  juga akan memperbesar peranan sosial ekonomi tersebut.

Manfaat yang tak kalah pentingnya adalah perluasan B20 tersebut juga menghasilkan manfaat jasa lingkungan berupa pengurangan emisi karbon nasional. Sebagiamana diketahui bahwa subsitusi solar dengan biodiesel sawit akan mengurangi 60 persen emisi mesin-mesin diesel. Perluasan B20 akan mengurangi emisi karbon nasional sebesar 11.4 juta ton per tahun.

Banyak manfaat yang dinikmati Indonesia dengan perluasan B20 tersebut. Oleh karena itu, perluasan B20 tersebut perlu didukung semua pihak untuk memastikan keberhasilannya.

550 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *