Dalam  Renewable Energy Directive (RED) dan Fuel Qualitative Directive (FQD) Uni Eropa (EU) ditetapkan bahwa pengembangan biofuel di EU tidak boleh meningkatkan emisi gas rumah kaca (nitrit, metan, karbon). Oleh karena itu, peningkatan emisi akibat perubahan penggunaan lahan pertanian pangan/hutan/ranch menjadi  tanaman biofuel maupun intensifikasi tanaman biofuel berlebihan  (Direct Landuse Change, DLUC) tidak diharapkan. Selain itu, emisi yang bersumber dari intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian pangan EU (Indirect Land Use Change, ILUC) juga tidak diperkenankan.

    Untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati masyarakat Uni Eropa, sebagian besar didatangkan dari impor. Dari sekitar 25 juta ton kebutuhan minyak nabati EU setiap tahun kemampuan produksi minyak nabati domestik Eropa  hanya mampu memenuhi 13 juta ton atau 52 sekitar  persen dari kebutuhannya sehingga sekitar 48 persen harus dipenuhi dari impor baik berupa minyak sawit, minyak kedelai maupun minyak nabati  lainya. EU yang full employment, tidak banyak pilihan lagi untuk meningkatkan produksi pertaniannya tanpa berakibat pada perubahan tataguna lahan EU.

    Kegamangan EU dalam menerapkan kebijakan menghambat  impor minyak sawit dan minyak nabati lainya, sebetulnya untuk memacu produksi domestik minyak rapeseed (RSO) maupun minyak biji bunga matahari (SFO) agar mengurangi ketergantungan dari impor.  Apalagi ada tekanan publik yang menghendaki pencabutan subsidi pertanian EU, maka produksi RSO dan SFO domestik EU akan terancam dari minyak nabati impor.

    Bagi EU, menghambat impor minyak sawit akan menciptakan berbagai masalah dan meningkatkan emisi di EU. Menghambat impor minyak sawit yang lebih murah dengan minyak RSO dan SFO produksi EU, akan mendorong harga minyak RSO dan SFO meningkat di dalam negeri sehingga akan memicu peningkatan  produksi minyak nabati EU tersebut. Hal ini  meningkatkan emisi gas rumah kaca  EU (yang justru mau dikurangi EU)  baik bersumber dari emisi DLUC maupun dari emisi ILUC.

    Peningkatan emisi dari DLUC tersebut bersumber dari : Pertama, Kenaikan harga RSO dan SFO tersebut akan meningkatkan intensifikasi (penggunaan pupuk, energi fosil untuk mekanisasi) tanaman RSO dan SFO.  Intensifikasi tanaman RSO dan SFO ini meningkatkan emisi gas rumah kaca  baik dari peningkatan penggunaan pupuk (nitrogen oksida, methane) maupun dari energi fosil (karbon). Sebagaimana laporan FAO, emisi dari input tanaman RSO dan SFO  jauh lebih tinggi (6 kali lebih besar) dari kebun sawit. Kedua, Kenaikan harga minyak RSO dan SFO domestik EU juga akan mendorong konversi lahan  hutan (eks lahan pertanian) dan lahan padang penggembalaan (ranch) di EU yang ada selama ini  menjadi lahan tanaman RSO dan SFO.  Ini merupakan deforestasi yang juga meningkatkan emisi karbon EU.

    Selain emisi dari DLUC tersebut, emisi dari ILUC juga potensial meningkat di EU. Pertama, Konversi sebagian lahan pangan EU menjadi tanaman biofuel tersebut (akibat kenaikan harga minyak RSO dan SFO) akan mendorong intensifikasi pertanian dengan menggunakan lebih banyak pupuk, pestisida dan energi fosil untuk mekanisasi. Pertanian EU yang selama ini padat emisi (nitrit, metan dan karbon), emisinya naik lagi akibat intensifikasi berlebihan tersebut. Kedua, pengurangan lahan pangan akibat berubah jadi lahan biofuel, akan mengganggu ketahanan pangan EU yang justru dihindari EU. Oleh karena itu lahan hutan (eks lahan pertanian) dan lahan ranch menjadi lahan pertanian pangan EU akan meningkat. Ini juga deforestasi yang meningkatkan emisi EU.

    Dengan kata lain, kebijakan EU yang menghambat atau mengurangi minyak sawit masuk ke EU, justru akan meningkatakan emisi pertanin EU sendiri. Hal ini bertentangan dengan RED maupun FQD yang ditetapkan EU sendiri. Lalu untuk apa EU menghambat minyak sawit ke EU yang justru merugikan masyarakat EU sendiri? Pemerintah EU seharusnya realistis akan keterbatasan ruang  EU sendiri. Kehadiran minyak sawit di EU sebaiknya dilihat EU sebagai solusi atas trade off fuel-food maupun RED.

539 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *