Berbagai pola kemitraan sawit rakyat-korporasi yang dibangun sejak awal tahun 1980 telah mengukir prestasi besar dalam industri minyak sawit nasional. Pola kemitraan Gelombang Pertama seperti PIR -Lok, PIR- SUS,PIR-trans, PIR- KKPA dan bentuk kemitraan lain yang dikembangkan bukan hanya berhasil menjadikan petani sawit menjadi salah satu aktor penting perkebunan sawit nasional, tetapi juga telah membawa Indonesia menjadi produsen terbesar minyak sawit dunia. Kemitraan tersebut yang merupakan suatu modal sosial (social capital) yang menampilkan wajah pembangunan (development) industri sawit nasional yang makin inklusif.

    Industri sawit nasional kedepan,  memerlukan Kemitraan Gelombang Kedua  yang diharapkan akan membawa industri sawit nasional termasuk sawit rakyat naik kelas dan mengukir prestasi baru bagi pembangunan nasional. Kemitraan gelombang kedua tersebut makin sangat strategis, mengingat kebun sawit rakyat akan menjadi aktor terbesar kebun sawit nasional dalam beberapa tahun kedepan. PASPI meperkirakan menjelang 2030, pangsa kebun sawit rakyat akan meningkat dari 42 persen saat ini menjadi 60 persen dari luas kebun sawit nasional. Masa depan kebun sawit nasional ada ditangan kebun sawit rakyat. Oleh karena itu, tanpa pengembangan dan perbaikan kualitas kemitraan, pasokan minyak sawit ke industri hilir akan terganggu.

    Kemitraan Sawit Gelombang Kedua, di desain dan ditujukan untuk mempercepat industrialisasi perkebunan sawit khususnya peningkatan produktivitas sawit rakyat dari 3.4 menjadi 8 ton minyak per hektar. Penanaman ulang atau replanting tanaman kelapa sawit rakyat telah dimulai dan pencanangannya dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo di Banyuasin, Sumatera Selatan pada 13 Oktober 2017. Diharapkan replanting sawit rakyat akan dilakukan di daerah-daerah lain baik di Pulau Sumatera maupun di Pulau Kalimantan.

    Seiring dengan replanting sawit, pengembangan kelembagaan dan organisasi sehamparan kebun sawit seperti koperasi sawit rakyat sehamparan sangat diperlukan untuk memudahkan dan mengefisienkan pengadaan pupuk dan input lain. Termasuk mengorganisir bimbingan kultur teknis dan manajerial sehingga standar kultur teknis yang terbaik dan berkelanjutan dapat dilaksanakan pada kebun sawit rakyat.

    Koperasi sawit rakyat sehamparan mutlak dikembangkan sebagai organisasi kolektif untuk menikmati skala ekonomi penyediaan pupuk dan input lain serta pemanenan saat TM.  Koperasi sawit sehamparan ini juga diharapkan dapat menjadi organisasi kolektif sawit rakyat untuk menyelesaikan legalitas lahan dan usaha sawit rakyat yang sudah dijanjikan pemerintah untuk diselesaikan.

    Selain untuk peningkatan produktivitas, Kemitraan Sawit Gelombang kedua tersebut  juga dimaksudkan untuk percepatan perbaikan kualitas  pengelolaan kebun sawit yang memenuhi asas-asas keberlanjutan (sustainability). Level dan kualitas keberlanjutan sawit rakyat akan lebih mudah dicapai dengan pengelolaan kemitraan sawit rakyat-korporasi sehamparan.

    Bahkan pola kemitraan sawit rakyat-korporasi gelombang kedua ini akan makin  menyatukan dan mensinergikan seluruh kekuatan (sosial, ekonomi, politik) menjadi suatu Big-push pembangunan bukan hanya bagi industri sawit itu sendiri tetapi juga bagi perekonomian nasional secara keseluruhan. Mesin pertumbuhan besar bagi perekonomian nasional akan lahir dari  industri sawit dengan pola kemitraanya.

724 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *