Kebijakan mandatori biodiesel sawit yakni mengganti secara bertahap solar fosil impor dengan biodiesel sawit domestik, merupakan langkah penting dalam membangun kemandirian energi nasional, menghemat devisa dan hemat emisi (perbaikan mutu lingkungan).

Saat ini dan ke depan ketergantungan Indonesia pada impor solar fosil makin meningkat terus, sehingga dengan mengganti solar fosil dengan biodiesel secara bertahap akan mengurangi ketergantungan kita pada solar fosil impor dan sekaligus menghemat devisa. Dalam kurun waktu 2014-2017 saja, Indonesia berhasil menghemat impor solar fosil secara akumulatif sebesar 7.78 juta ton dan penghematan devisa untuk impor BBM sekitar  Rp. 38.8 Triliun.

Kemudian, kita telah berkomitmen ke masyarakat Internasional untuk ikut menurunkan emisi karbon. Sumber emisi Indonesia terbesar adalah dari konsumsi energi fosil termasuk solar fosil. Semakin meningkat konsumsi solar fosil semakin meningkat emisi karbon. Pengggantian solar fosil dengan biodiesel sawit dapat menurunkan emisi diesel sampai 62 persen. Sehingga semakin banyak biodiesel sawit yang dicampur dengan solar fosil semakin rendah emisinya.

Selama tahun 2014-2017 pengurangan emisi Indonesia akibat penggunaan biodiesel (mengganti solar fosil) mencapai 11.7 juta ton CO2. Pengurangan emisi tersebut jika dihitung shadow price-nya yakni USD 20/ton, maka nilai jasa lingkungan yang dihasilkan dari mandatori biodiesel tersebut mencapai Rp. 3.15 Triliun. Dengan kata lain nilai manfaat yang dinikmati Indonesia dari kebijakan mandatori biodiesel selama 2014-2017 secara akumulatif mencapai USD 3.1 Miliar atau Rp 42 Triliun.

Nilai manfaat tersebut, belum memperhitungkan manfaat yang tercipta di sektor perkebunan. Produksi minyak sawit (bahan baku biodiesel) melibatkan 13 juta hektar kebun sawit yang didalamnya terra at sekitar 4.6 juta kebun sawit rakyat dan ekonomi 200 kabupaten produsen sawit di Indonesia. Oleh karena itu, meningkatkan penyerapan miyak sawit didalam negeri melalui mandatory biodiesel, berarti juga menjamin pasar produksi sawit para petani tersebut dan menggerakkan ekonomi setidaknya 200 kabupaten.

Manfaat yang juga tak bisa dilupakan adalah bagi industri sawit kita secara keseluruhan. Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia, dimana sekitar 70 persen dari produksi minyak sawit kita di ekspor keberbagai negara. Artinya industri sawit kita terlalu tergantung pada pasar CPO dunia. Untuk mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor, perlu pengembangan pasar domestik yang dapat memperbesar penggunaan minyak sawit yang di dalam negeri. Penggunaan minyak sawit menjadi biodiesel sawit dan digunakan sebagai pengganti sebagian solar fosil impor, akan mengurangi ketergantungan pada pasar CPO dunia.

Dengan kata lain, mandatori biodisel harus dilanjutkan terus dan bahkan perlu diperluas bukan hanya segmen pasar PSO tetapi juga pasar Non PSO. Perlu dicatat sekitar 50 persen komsumsi solar fosil kita ada di sektor komersial (non PSO). Jika mandatori biodiesel diperluas ke PSO tambahan manfaat yang kita nikmati Rp 100 Triliun atau setidaknya dua kali lipat dari saat ini.

671 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *