Indonesia telah berhasil menjadi produsen CPO terbesar dunia sejak tahun 2006 lalu. Tantangan berikutnya adalah merubah dari “raja” CPO dunia menjadi “raja” produk hilir dunia yakni produk oleofood, biopelumas, biosurfactant, bioplastik dan biofuel.

Mempertahankan apalagi terlena sebagai “raja” CPO dunia sangat merugikan Indonesia khususnya dalam jangka panjang. Ketergantungan Indonesia pada pasar CPO dunia akan membuat industri minyak sawit Indonesia mudah dipermainkan pasar CPO dunia karena industri hilir minyak sawit berada dan dikuasai negara-negara lain. Selain itu, nilai tambah industri hilir juga tidak dinikmati Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia perlu mempercepat hilirisasi minyak sawit didalam negeri. Hilirisasi industri minyak sawit nasional hendaknya ditempatkan sebagai bagian dari strategi industrialisasi Indonesia. Sebagai bagian dari strategi industrialisasi nasional, hilirisasi minyak sawit perlu dirancang jauh kedepan (visioner).

Untuk mentransformasi industri sawit Indonesia dari “Raja” CPO dunia menjadi “Raja” Produk Hilir, memerlukan hilirisasi domestik melalui tiga jalur. Pertama, Jalur Hilirisasi Oleopangan (oleofood complex) yakni pendalaman industri-industri hilir CPO/PKO untuk menghasilkan produk antara oleopangan (intermediate oleofood) sampai pada produk jadi oleo pangan (oleofood product).

 Kedua, Jalur Hilirisasi Oleokimia (oleochemical complex) yakni pendalaman industri-industri yang mengolah CPO/PKO menjadi produk antara oleokimia/oleokimia dasar sampai pada produk jadi seperti produk biosurfaktan, biolubrikan dan biomaterial. Ketiga, Jalur Hilirisasi Biofuel (biofuel complex) yakni pendalaman industri-industri hilir yang mengolah CPO/PKO menjadi produk antara biofuel sampai pada produk jadi biofuel seperti biodiesel, bioavtur, biopelumas.

Untuk mendukung hilirisasi tersebut juga memerlukan kegiatan riset-inovasi pada sektor hilir secara multidisiplin dan diharapkan mempercepat pendalaman hilirisasi industri sawit nasional sehingga dihasilkan berbagai jenis produk-produk hilir dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Pada level riset (invention) dari minyak sawit dan biomas sawit dapat dihasilkan ratusan produk baik oleofood complex, oleokimia complex maupun biofuel complex (MPOB, 2017). Melalui riset-inovasi bisnis diharapkan dapat merubah invention tersebut menjadi inovasi produk-produk baru.

Selain itu juga penting adanya dukungan kebijakan dari pemerintah. Perubahan kebijakan hilirisasi minyak sawit ke depan yakni Kemudahan dan Efisiensi Perizinan, Peningkatan dan Penyediaan Kualitas Infrastruktur serta Penurunan Suku Bunga Kredit. Kombinasi ketiga kebijakan tersebut akan mempercepat hilirisasi dan menguntungkan baik bagi produsen TBS/CPO, pelaku hilir, konsumen maupun pemerintah.

Sehingga dengan riset-inovasi dan dukungan kebijakan dari Pemerintah, industri sawit Indonesia akan menghasilkan lompatan-lompatan inovasi yang akan membawa Indonesia naik kelas dari “raja” CPO dunia saat ini, menjadi “raja” hilir (oleofood, biopelumas, biosurfactant, bioplastik dan biofuel) dunia ke depan.

721 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *