Indonesia merupakan salah satu negara yang menghasilkan produksi sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data BPS tahun 2015, produksi kelapa sawit di Indonesia mencapai 31,07 juta ton per tahun. Sebesar 23% dari total produksi kelapa sawit tersebut merupakan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). 1 ton kelapa sawit dapat menghasilkan limbah tandan kosong (tankos) sawit sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang sebanyak 6,5% atau 65 kg, sabut 13% atau 130 kg. TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) mengandung jumlah kalor sebesar 4.492,7436 kalori/g (4.492,7436 Kkal/kg) atau 18.719,4656 \joule/g serta mengandung pati 11,550 % bb dan mengandung selullosa 41,392 % bb (Hasil Uji Laboratorium di Ditrik Jair, Provinsi Papua). TKKS memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kain, bioetanol, dan bioplastik.

Pada tahun 2017 lalu, ditemukannya 30 kantong plastik di perut ikan paus berparuh cuvier di  Norwegia membuat sampah plastik kembali menjadi perbincangan dunia. Sampah plastik memang sudah diklaim oleh banyak pihak dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Selain karena kebiasaan masyarakat membuang sampah plastik ke sungai yang akhirnya bermuara di laut sehingga mengganggu ekosistem di laut, hal ini juga dikarenakan plastik memiliki sifat yang sulit terurai. Pada penelitian Jambeck (2015), potensi sampah plastik yang mencemari lautan Indonesia mencapai kurang lebih 187 juta ton per tahun. Sampah plastik menjadi persoalan dilematis ketika dihadapkan dengan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan ini sawit memiliki kontribusi yang baik dengan memanfaatkan TKKS menjadi inovasi bioplastik yang ramah lingkungan dan mudah terurai oleh tanah.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan bioplastik sebagai kantong ramah lingkungan. Inovasi tersebut dibuat dari limbah padat pelepah tandan kosong kelapa sawit. Bioplastik berbasis limbah kelapa sawit ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengganti plastik konvensional. Karena bioplastik memiliki sifat tahan terhadap air dan kelembaban. TKKS disusun oleh beberapa zat penting yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan lain yang bernilai ekonomi.

Tabel 1. Kandungan Senyawa Organik TKKS

Komposisi

Kadar (%)

Kadar air 8,56
Lignin 25,83
Holoselulosa 56,49
Selulosa 33,25
Hemiselulosa 23,24
Zat Ekstraktif 4,19

 

 

Salah satu pemanfaatan TKKS adalah dengan mengekstraksi selulosa sebagai bahan baku bioplastik ramah lingkungan. Hal ini akan membantu permasalahan lingkungan  yaitu pencemaran lingkungan akibat penmbuangan sampah plastik sembarangan. Kandungan selulosa dalam TKKS sebesar 30-40% berat. Selulosa dari TKKS tersebut diekstraksi dengan dua tahapan proses yaitu delignifikasi menggunakan natrium hidroksida (NaOH) 12% selama 3 jam dilanjutkan bleaching dengan hidrogen  peroksida (H2O2) 10% selama 1,5 jam. Dari hasil ekstraksi tersebut didapatkan hasil selulosa sebesar 34%. Dari hasil tersebut bahwa Kandungan selulosa TKKS memiliko potensi sebagai bahan baku bioplastik. Salah satu zat yang penting dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat bioplastik adalah selulosa. Namun, selulosa tidak dapat langsung diproses menjadi bioplastik. Hal ini dikarenakan selulosa tidak dapat larut di kebanyakan pelarut. Sehingga perlu diolah menjadi selulosa asetat. Bioplastik yang dapat dihasilkan dari selulosa memiliki sifat mudah terurai dalam waktu 2-3 minggu pada media lumpur aktif pengolahan limbah.

Oleh karena itu, pemanfaatan potensi limbah Tankos Sawit sangat berkontribusi dalam mengatasi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampas plastik yang dibuang sembarangan di jalan, sungai, atau pun ditempat lainnya. Tidak hanya untuk mengatasi pencemaran sampah plastik saja, Pemanfaatan TKKS menjadi bioplastik yang mudah terurai oleh tanah juga dapat mewujudkan SDGs’30 salah satunya yaitu pertanian berkelanjutan. Limbah pada dari industri sawit berupa TKKS tidak hanya dibuang begitu saja yang dapat mencemari lingkungan, akan tetapi diolah menjadi inovasi bioplastik sehingga industri sawit dapat berjalan sesuai dengan prinsip pertanian berkelanjutan yaitu proses budidaya tanpa merusak lingkungan yang ada. Oleh karena itu, Diharapkan kepada pemerintah, masyarakat, dan khususnya petani maupun industri sawit agar mampu memanfaatkan potensi dari TKKS menjadi bioplastik sehingga Indonesia dapat mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang diakibatkan sampah plastik dan agar menjadikan Indonesia menjadi negara yang bersih dan bebas dari pencemaran sampah plastik.

 

Novitasari – Universitas Riau

210 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *