Kehadiran sawit dalam ekosistem dunia tidak sekadar menghasilkan minyak sawit untuk kebutuhan masyarakat dunia. Meskipun  minyak sawit sekitar 90 persen dihasilkan dari Indonesia dan Malaysia, sesungguhnya manfaat kehadiran sawit memberi manfaat ganda bagi masyarakat dan ekosistem dunia. Diantaranya, lima solusi yang dihadirkan sawit  adalah sebagai berikut.

    Pertama, penghematan lahan untuk produksi minyak nabati dunia. Kebutuhan minyak nabati  masyarakat dunia baik sebagai bahan pangan maupun non pangan terus meningkat sekitar 6 juta ton per tahun. Untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati tersebut dipenuhi dari 4 sumber minyak nabati utama dunia yakni sawit, kedelai, biji bunga matahari dan rapeseed. Jika tambahan minyak nabati tersebut dipenuhi dari 3 jenis minyak kedelai, bunga matahari, rapeseed (produktivitas rata-rata 0.6 ton minyak/ha), maka kebutuhan tambahan lahan untuk 3 jenis minyak nabati tersebut setidaknya 10 juta hektar (mendorong deforestasi dan land use change). Namun jika tambahan kebutuhan minyak nabati tersebut dipenuhi dari kebun sawit, hanya memerlukan lahan sekitar 1.5  juta hektar. Bahkan melalui peningkatan produktivitas minyak sawit (masih dapat ditingkatkan) dari 4 ton menjadi 8 ton minyak per hektar tidak perlu menambah lahan sawit lagi. Pendek kata, dengan kehadiran sawit, masyarakat dunia tidak perlu menambah lahan lagi (menghemat deforestasi, land use change) dalam penyediaan  minyak nabati dunia.

    Kedua, menyediakan minyak nabati yang lebih murah. Kehadiran minyak sawit dalam ekosistem dunia selama ini telah menyediakan minyak nabati yang lebih murah (lebih efisien) dari minyak nabati lainya. Harga minyak sawit di pasar dunia adalah paling kompetetif (lebih murah) dibandingkan dengan minyak nabati lain. Hal ini membantu masyarakat dunia yang berpendapatan rendah dan miskin untuk memperoleh bahan pangan minyak nabati.

    Ketiga, menyediakan energi hemat emisi atau low carbon. Sampai saat ini masyarakat dunia menghadapi masalah pemanasan global (dampaknya pada perubahan iklim dunia) yang diakibatkan oleh emisi karbon yang besar dari konsumsi bahan bakar fosil (minyak bumi, gas, batu bara). Untuk menurunkan emisi karbon global tersebut, solusinya adalah mengurangi emisi bahan bakar dengan beralih ke bahan bakar nabati yang emisinya jauh lebih rendah dan menyerap kembali emisi karbon dari atmosfir bumi. Kehadiran sawit dalam ekosistem dunia menghadirkan kedua solusi tersebut yakni menyediakan bahan bakar nabati hemat emisi (biodiesel, bensin sawit, bioavtur) dan proses produksinya pada kebun sawit  menyerap kembali karbon dari atmosfir bumi.

    Keempat, membantu negara-negara maju mengatasi masalah trade-off food-fuel. Saat ini negara-negara maju khsusnya Uni Eropa dan Amerika Serikat, mengahadapi konflik (trade off) penggunaan minyak nabatinya (kedelai, bunga matahari, rapeseed) antara untuk bahan pangan atau untuk biofuel. Jika minyak nabatinya tersebut digunakan untuk bahan pangan saja akan mengorbankan  produksi biofuel (untuk menggganti minyak fosil). Sebaliknya jika minyak nabatinya tersebut digunakan untuk biofuel, ketersediaan bahan pangan akan terganggu atau mengancam ketahanan pangan disana. Solusi untuk trade-off tersebut adalah harus ada minyak nabati lain dari luar Uni Eropa dan Amerika Serikat yang lebih murah. Saat ini yang paling tersedia adalah minyak sawit. Kehadiran minyak sawit di masyarakat Eropa dan Amerika Serikat bahkan dunia secara keseluruhan akan menghilangkan trade-off tersebut yakni penyediaan pangan dan penyediaan biofuel dapat terjamin sekaligus.

    Kelima, solusi polusi sampah plastik dunia. Saat ini masyarakat dan ekosistem dunia menghadapi polusi sampah plastik yang mengotori lingkungan perairan sungai dan laut. Selama ini masyarakat dunia menggunakan barang-barang plastik yang terbuat dari kimia turunan minyak bumi/fosil atau petroplastik. Karakteristik petroplastik tersebut adalah sulit terurai secara alamiah, sehingga plastik yang tidak digunakan lagi akan menumpuk dan merusak ekosistem perairan global. Kehadiran sawit juga menghadirkan solusi atas petroplasik melalui bioplastik sawit yang ramah lingkungan dan mudah terurai secara alamiah (biodegradable).

Dari mana bioplastik sawit? Dari produksi TBS (Tandan Buah Segar) hanya 20 persen berupa minyak sawit dan 80 persen sisanya berupa biomass (tandan kosong) yang merupakan bahan baku bioplastik.

    Pendek kata, Sawit menghadirkan solusi bagi masyarakat dan ekosistem dunia. Solusi yang ramah lingkungan, multibenefit berupa berkelanjutan secara ekonomi, berkelanjutan secara sosial, dan berkelanjutan secara  lingkungan.

354 total views, 19 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *