Alfi Nurdina- Juara 3 Lomba Penulisan Artikel Tema Peran Sawit dalam SDGS di Institute Pertanian Bogor

 

Bagan 1 sumber: Instagram HIPMA IPB (agripress)

Apa yang pertama kali kita fikirkan jika mendengar kata sawit? Sebagian dari kita pasti akan langsung berfikir tentang komoditas perusak lingkungan dan hutan. Belakangan ini Indonesia dan beberapa negara penghasil sawit terus diserang dengan berbagai isu lingkungan. Deforestasi, pelanggaran HAM dan kepunahan hewan langka seperti orang utan diangkat sebagai isu utama. Tuduhan seperti ini nampak terlalu kejam jika diarahkan kepada sawit apalagi jika ternyata dibalik serangan ini ada tujuan politik tersembunyi.

Sawit dikenal sebagai komoditas penghasil minyak nabati. Produktivitas sawit dalam menghasilkan minyak lebih tinggi dibandingkan tanaman lain seperti kedelai atau bunga matahari. Oleh karena itu, sawit dijadikan sebagai tanaman penghasil minyak nabati utama. Menariknya, Tanaman sawit adalah anugerah bagi negara-negara tropis. Negara kawasan subtropis tidak bisa membudidayakan sawit, mereka hanya bisa membudidayakan kedelai  dan bunga matahari.  Sawit lebih efisien dalam menghasilkan minyak, hal ini menyebabkan minyak dari kedelai atau bunga matahari ,produksi  domestik eropa, kurang populer. Eropa diduga kuat menyebarkan isu lingkungan dan HAM ini untuk menghalangi konsumsi minyak sawit. Dengan menggunakan Isu SDG’s pemerintah eropa menghalangi perdagangan sawit ke negaranya.

*Source:Oil World (2008) ISTAMielke GmBH Hmburg

Menggunakan isu SDG’s sebagai alasan utama memlokir ekpor sawit adalah diskriminasi besar. Eropa hanya memandang sawit dari satu sudut pandang lingkungan saja. Faktanya sawit berkontribusi besar dalam kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan. Banyak kepala keluarga yang menggantungkan kehidupan mereka dari sawit. Jika ternyata sawit diblokade dan dilarang, maka mata pencaharian jutaan rakyat akan hilang. Salah satu tujuan SDG’s yakni kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan juga akan gagal.

Tanaman sawit adalah tanaman yang sangat berpotensi besar dalam menjaga ketahanan pangan dan energi. Komoditas ini salah satu penyumbang devisa terbesar negara dan juga penopang ekonomi jutaan orang. Belum ada tanaman lain yang mampu menandingi produktivitas sawit dalam menghasilkan minyak. Pertanian saat ini sudah tidak mungkin lagi melakukan ekstensifikasi karena luas lahan sudah semakin berkurang. Produksi minyak nabati dari tanaman selain sawit hanya akan menghabiskan lebih banyak energi dan waktu. Padahal salah satu tujuan SDG’s adalah keberlanjutan energi. Memberdayakan sawit adalah salah satu cara untuk mendukung SDG’s yakni  keberlanjutan energi dimasa depan dan pengentasan kemiskinan.

Salah satu isu kuat yang diangkat eropa adalah deforestasi. Faktanya, tidak ada pertanian yang tidak menebang hutan, sawah dan ladang kedelai itu dulunya pasti hutan. Justru jika dibandingkan dengan sawit, lahan kedelai jauh lebih banyak. Berdasarkan hasil riset The Forest Trends Supply Change Report 2017, lahan hutan yang dikonversi menjadi lahan sawit hanya 270 ribu hektare per tahun. Angka ini sangat kecil bila dibandingkan dengan peternakan sebesar 2,7 juta hektare, kedelai 480 ribu hektare serta kayu dan kertas sebesar 380 ribu hektare. Tidak adil jika hanya sawit yang dikambinghitamkan untuk kerusakan lingkungan.

Fakta yang beredar dimasyarakat juga tidak seimbang, mayoritas mengangkat dampak negatif sawit namun sedikit yang mengangkat manfaat sawit, padahal sawit berkontribusi besar bagi perekonomian. Contohnya, sawit dicap sebagai penyerap air paling banyak, padahal jika dibandingkan dengan kopi, untuk menghasilkan 1 ton produksi, kopi lebih banyak menyerap air. Masih banyak fakta yang tidak diungkapkan media tentang sawit. Propaganda-propaganda yang terlanjur menyebar telah membuat nama sawit kita tercemar. Dan menjadi tugas kita untuk kembali mengangkat sawit, memperbaiki citra sawit yang telah dirusak oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Tentu saja selain membela sawit kita juga harus memperbaiki sistem budidaya sawit sekarang. Kita sepatutnya membenahi konstitusi dan pengawasan terhadap perkebunan sawit agar tidak melakukan penyimpangan yang dapat menimbulkan kerugian bagi alam. Eropa memiliki celah untuk menyerang Indonesia karena ada permasalahan dalam sistem kita. Jika permasalahan ini kita tangani sejak dahulu, pihak manapun termasuk eropa tidak akan punya celah untuk melarang ekspor sawit kita. Maka dari itu perlu akademisi-akademisi yang mengembangkan penelitian dan riset untuk memperbaiki budidaya sawit. Bagaimana cara memproduksi sawit secara lebih efisien tanpa perlu menyebabkan kerusakan lingkungan. Masyarakat juga harus dicerdaskan pengetahuanya tentang sawit. Informasi yang beredar juga harus dipantau, jangan sampai beredar hoax.

Keterangan Publikasi Tulisan

Tulisan ini Pernah dipublikasikan oleh Tim Agripress HIPMA melalui Instagram dan Line Bulan Maret tanggal 10 sebagai tanggapan dari adanya pelarangan ekspor sawit Indonesia oleh Eropa.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistiik. 2018.Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2017. [Internet] Diunduh pada 7 maret 2019 tersedia pada: http://www.bps.go.id/

Gapki. 2018. Mitos dan Fakta Kelapa Sawit. [Internet]. Diakses pada 9 maret 2019 tersedia pada https://gapki.id/news

Kumparan. 2018. Deforestasi untuk Ladang Kedelai Lebih Luas dari Perkebunan Sawit. [internet]. Diakses pada 9 maret 2019 tersedia pada: https://kumparan.com

Alfi Nurdina- Juara 3 Lomba Penulisan Artikel Tema Peran Sawit dalam SDGS di Institute Pertanian Bogor

258 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *