Umarudin – Juara 2 Lomba Penulisan Artikel Tema Peran Sawit dalam SDGS di Universitas Tanjungpura

 

Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri sebagai bahan baku penghasil CPO (Crude Palm Oil). Indonesia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia bersama dengan Malaysia. Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil CPO adalah tanaman perkebunan yang terdapat di hampir seluruh wilayah Indonesia diantaranya tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Semakin meningkatnya konsumsi minyak solar yang berasal dari sumber energi fosil atau sumber energi yang tidak terbarukan dan semakin terbatasnya cadangan minyak, telah menyebabkan peningkatan impor minyak solar setiap tahunnya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, sebagai salah satu negara tropis yang memiliki berbagai jenis tanaman, Indonesia perlu memanfaatkan sumber energi terbarukan biomasa yang ada sebagai pengganti minyak solar. Biomasa yang dapat dikembangkan menjadi bahan bakar (biodiesel) terdiri dari berbagai jenis tanaman yang mencapai sekitar 54 jenis tanaman, satu diantaranya adalah kelapa sawit.

CPO yang berasal dari kelapa sawit merupakan sumber bahan baku biodiesel yang sudah tersedia, meskipun saat ini CPO tersebut diperuntukkan sebagai keperluan non energi seperti minyak goreng dan sabun. Namun mengingat ketersediaan CPO yang melimpah, maka perlu dipertimbangkan pengembangannya sebagai bahan baku pembuatan biodiesel, sehingga CPO dari kelapa sawit bukan saja bermanfaat sebagai sumber makanan dan sumber devisa, tetapi juga bermanfaat sebagai sumber energi.

Prospek Pengembangan produksi biodiesel yang dihasilkan dari kelapa sawit dapat dilihat pada tabel berikut.

Wilayah Th 2000 Th 2001 Th 2002 Th 2003 Th 2017
 

 

Luas (000 ha) CPO (000 ton) Luas (000 ha) CPO (000 ton) Luas (000 ha) CPO (000 ton) Luas (000 ha) CPO (000 ton) Luas (000 ha) CPO (000 ton)
Sumatera

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

Papua

2744

21

844

108

52

6597

34

741

118

91

2810

21

971

114

56

6850

37

834

148

100

3890

23

957

143

53

8190

34

1065

261

72

4032

23

967

146

68

7954

37

489

271

73

7400

36

4340

404

126

23921

74

10221

905

235

Indonesia 3770 7581 3973 7969 5067 9622 5239 8824 12307 35359

Sumber: Direkrorat Jendral Perkebunan

 

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat di simpulkan bahwa produksi CPO Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi ketahanan energi nasional kedepannya.

Sesuai amanah RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional), pemerintah telah mencanangkan target penggunaan EBT (Energi Baru Terbarukan)  sebesar 23 % dari bauran energi nasional pada tahun 2025. Hal ini sejalan dengan salah satu poin Sustaianable Development Goal’s yaitu energi bersih dan terjangkau (Aordable and Clean Energy). Tentu ini menjadi sebuah tantangan besar bagi Indonesia mengingat batu bara dan solar masih menjadi sumber utama penghasil energi listrik nasional saat ini.

Untuk mengatasi dan mencegah kelangkaan energi di masa yang akan datang, pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai EBT yang dinilai mampu menjadi pengganti bahan bakar fosil. Salah satu yang paling menjanjikan adalah Biodiesel atau Bahan Bakar Nabati (BBN). Kehadiran Biodiesel terutama B20 yang merupakan produk hilirisasi kelapa sawit ini mulai digalakkan penggunaanya sejak akhir agustus 2018 lalu. B20 sendiri merupakan kombinasi antara 80% minyak bumi dan 20% minyak sawit.

Biodiesel memiliki kelebihan lain dibandingkan dengan solar, yaitu:

  1. Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global.
  2. Cetane number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan dengan minyak kasar.
  3. Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai (biodegradable).
  4. Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbaharui.
  5. Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal.

Diharapkan B20 mampu untuk mengatasi kelangkaan energi serta menghemat devisa negara, mengingat Indonesia merupakan salah satu pengimpor solar terbesar di dunia. Tidak berhenti di situ, pemerintah baru-baru ini telah berhasil mengembangkan teknologi B100 dimana 100% minyak kelapa sawit diolah menjadi BBN. Layaknya angin segar yang berhembus bagi khazanah energi nasional, B100 diharapkan mampu mewujudkan target penggunaan 23% EBT dari bauran energi nasional bahkan lebih.

Keseriusan pemerintah dalam mengembangkan B100 ini tidak lain karena dari segi esiensi biaya, B100 jauh lebih unggul daripada bahan bakar fosil. Sebut saja solar, untuk menempuh jarak 1 Km minyak hitam ini membutuhkan sekitar Rp 1000. Bandingkan dengan B100 yang hanya membutuhkan sekitar Rp 732 untuk menempuh jarak per Km-nya. Sehingga penggunaan B100 diproyeksi dapat menghemat esiensi biaya sebesar 25-30 persen. Selain itu, menurut Menteri Pertanian Andi Arman dalam suatu sesi tanya jawab menyatakan, Penggunaan biodiesel berbahan bakar nabati 100% (B100) lebih efisien dibanding solar baik dari segi biaya dan dampaknya. Menurutnya, penggunaan B100 mampu mengurangi kebutuhan impor solar Indonesia dan akan menghemat anggaran sebesar Rp 150 triliun. Sebuah angka yang sangat besar untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

Dengan meningkatnya permintaan kelapa sawit untuk memasok biodiesel di masa depan maka secara tidak langsung akan menaikkan harga TBS (Tandan Buah Segar) yang pada akhirnya akan mensejahterakan petani. Indonesia juga tidak perlu khawatir lagi terkait Uni Eropa yang mencoret sawit sebagai bahan bakar nabati yang tak ramah lingkungan. Jika penerapan B20 dan B100 sudah terealisasi sepenuhnya, maka kebutuhan dunia terhadap minyak sawit akan terus meningkat.

B100 juga diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional karena memiliki keterkaitan dan multiplier efect yang kuat terhadap sumber daya lokal berbasis ouput, value added, pendapatan, peningkatan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Tentu hal ini adalah satu hal yang diharapkan dalam SDG’s poin yang ke delapan, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak. Proyek menuju B100 ini akan lebih efektif jika pemerintah melirik konsep PPP (public private partnership) dengan swasta baik dalam maupun luar negeri.

Kita semua tentu berharap target energi B100 bukan sekedar wacana yang hanya panas diawal. Potensi hilirisasi sawit harus dimanfaatkan dengan cara seoptimal mungkin. Pemerintah harus bekerja keras dalam mewujudkan ketahanan energi yang berbasiskan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Rakyat Indonesia menantikan wajah baru Indonesia yang mapan dalam segi energi.

 

*artikel telah dimuat di:

Koran Suara Pemred Kalbar, Edisi 19 Oktober 2019

248 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *