Apabila ada pertanyaan komoditas apakah yang terbukti mampu memberikan banyak manfaat terhadap perekonomian Indonesia selama ini, kelapa sawit layak dikedepankan untuk menjadi jawabannya. Banyak bukti yang menjadikan komoditasi ini pantas dijadikan sebagai primadona bagi perekonomian Indonesia. Bagaimana tidak, kelapa sawit telah sejak lama berkontribusi besar terhadap penerimaan devisa negara. Sebagai contoh, industri ini telah menyumbang devisa kurang lebih sebesar Rp. 230 trilyun pada tahun 2017, atau menjadikannya sebagai penyumbang devisa terbesar mengalahkan sumbangan devisa dari sektor-sektor lain yang memiliki nama lebih mentereng seperti migas dan parawisata. Diperkirakan industri kelapa sawit dapat menyumbang sekitar 1,5-2,5 persen dari nilai total Produk Domestik Bruto  (PDB).

Lebih membanggakannya lagi, capaian tersebut juga turut dilengkapi oleh capaian hebat lain berupa keberhasilan Indonesia menjadi eksportir kelapa sawit terbesar di dunia mengalahkan negara jiran Malaysia yang berada di peringkat kedua. Tercatat Indonesia berhasil mengekspor komoditas ini sebanyak 27 juta ton pada tahun 2016 menurut rilis data yang dikeluarkan oleh BPS, dengan India sebagai negara tujuan ekspor utama yang memiliki nilai ekspor sebesar 5,4 juta ton.

Selain itu, sektor ini pun juga ikut berperan besar dalam penciptaan banyak lapangan kerja di negeri ini, dengan 17 juta orang mengandalkan mata pencahariannya di sektor komoditas kelapa sawit, baik di hulu maupun hilir. Di sisi lain, tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit pun terbilang relatif lebih tinggi ketimbang petani komoditas pertanian lain. Apabila kita membaca hasil penilitian yang dirilis oleh PASPI pada 2014, tercatat petani kelapa sawit mengalami peningkatan pendapatan dari Rp. 14 juta/hektar/tahun pada tahun 2009 menjadi Rp. 31 juta/hektar/tahun pada tahun 2013, sedangkan petani komoditas pertanian lain hanya mendapatkan kenaikan pendapatan dari Rp. 4,6 juta/hektar/tahun pada tahun 2009 menjadi Rp. 7,2 juta/hektar/tahun pada empat tahun berikutnya. Angka pendapatan yang didapat oleh petani kelapa sawit setiap tahunnya tersebut sudah cukup untuk mengangkat derajat para petani kelapa sawit berada di kelas berpendapatan menengah (middle class income). Industri kelapa sawit terbukti mampu menjadi instrumen efektif guna mengurangi jumlah kemiskinan di negeri ini, sejalan dengan poin pertama yang terdapat pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s).

Tak hanya menyejahterakan rakyat, kelapa sawit ternyata juga turut mengurangi beban pengeluaran negara untuk mengimpor bahan bakar solar. Hal ini dapat terjadi karena adanya kebijakan pemerintah yang mengeluarkan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang mencampurkan biodiesel yang berasal dari minyak sawit sebesar 20% ke dalam bahan bakar solar atau yang dikenal dengan kebijakan B20. Tercatat hingga bulan Januari 2019 atau empat bulan pasca penerapan kebijakan tersebut, negara telah mampu menghemat pengeluaran sebesar 937,84 juta dollar AS atau setara Rp.13,23 triliun. Kelebihan dari B20 ini antara lain lebih hemat  dan ramah lingkungan. Hal ini tentunya sejalan dengan keinginan banyak pihak pada pemerintah untuk memperbanyak jenis bahan bakar yang hemat dan ramah lingkungan di tengah meningkatnya ancaman pemanasan global. Diharap ke depannya minyak sawit dapat berperan lebih aktif dalam membuat Indonesia semakin mandiri dalam hal penyediaan energi seiring adanya wacana penerapan kebijakan B40 dan B100.

Membaca  beragam  manfaat  dari  industri  kelapa   sawit   terhadap perekonomian negara Indonesia di atas, tentu tidak salah pemerintah mengandalkan industri kelapa sawit sebagai sumber andalan pendapatan dan penghematan anggaran negara di tengah tidak menentunya situasi ekonomi global.

 

Faisal Ilham – Peserta Penulisan Artikel Tema Peran Sawit dalam SDGs di Institute Pertanian Bogor

569 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *