Pulau Sumatera merupakan daerah awal perkembangan sekaligus sentra utama perkebunan kelapa sawit Indonesia. Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau penting yang memiliki kontribusi terbesar dalam pembangunan perkebunan (estate) di Indonesia, khususnya perkebunan tanaman tahunan. Beberapa komoditas penting dunia banyak dihasilkan di Pulau Sumatera, antara lain : minyak sawit, coklat, karet dan kopi, yang telah menghantarkan Indonesia ke level dunia (PASPI, 2017).

Kebun sawit di Pulau Sumatera sering menjadi sorotan kalangan environmentalist yang dipersepsikan sebagai penyebab deforestasi. Benarkah ekspansi kebun sawit penyebab deforestasi di Sumatera?

Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan (2017) sekitar 60 persen dari areal kebun sawit nasional berada di Pulau Sumatera. Penelusuran jejak perubahan hutan dan perkebunan di Pulau Sumatera menunjukkan hal-hal berikut. Pada tahun 1950 luas hutan di Sumatera adalah 37.3 juta ha. Pada kurun waktu 1950-1985 luas konversi hutan menjadi non hutan mencapai 23.8 juta hektar, akibat era logging (HPH) yang intensif pada masa Orde Baru. Sementara dalam periode yang sama,  perluasan perkebunan sawit hanya 0.5 juta hektar.

Kemudian akumulasi konversi hutan menjadi non hutan pada kurun waktu 1985-2000, meningkat menjadi 31.6 juta ha. Sementara luas perkebunan sawit di Pulau Sumatera naik dari 0.5 juta hektar menjadi 2.7 juta hektar.

Secara akumulatif selama kurun waktu 1950-2016, luas konversi hutan menjadi non hutan di Pulau Sumatera mencapai 34.1 juta ha. Sedangkan luas perkebunan sawit Pulau Sumatera pada waktu yang sama adalah 6.4 juta hektar. Apakah data ini dapat menyimpulkan bahwa pemicu utama deforestasi hutan di Sumatera adalah ekspansi kebun sawit?

Dengan data tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kebun sawit bukanlah pemicu utama konversi hutan menjadi non hutan di Pulau Sumatera, dimana sekitar 80 persen hasil konversi hutan dipergunakan untuk kepentingan sektor di luar kebun sawit. Sebaliknya hadirnya kebun sawit justru ikut menghijaukan kembali sosial, ekonomi dan ekologi Pulau Sumatera, yang terdegradasi akibat logging yang sangat massif pada masa Orde Baru.

Dosa logging yang massif pada masa Orde Baru dan melibatkan pejabat-pejabat kehutanan dan didukung ahli-ahli perguruan tinggi waktu itu, jangan dialihkan menjadi beban kebun sawit. Logging mendegradasi Pulau Sumatera, kebun sawit justru merestorasi Pulau Sumatera.

923 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *