Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan andalan dan merupakan penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Produksi kelapa sawit  Indonesia memiliki urutan pertama dan diikuti oleh Malaysia. Tingginya produksi  kelapa sawit dari tahun ke tahun menyebabkan luas areal tanaman sawit juga semakin meningkat. Menurut Masykur (2013) peningkatan luas areal tanaman sawit terus meningkat dengan pesat pada 1999-2003, dari 2.96 juta hektar menjadi 3.8 juta hektar yang tersebar di provinsi Riau, Kalimantan dan Sulawesi. Meningkatnya luas areal tanaman sawit menimbulkan dampak tersendiri bagi lingkungan hidup seperti lingkungan menjadi gersang dan menimbulkan pemanasan global.

Dorongan memperkuat tata kelola lahan dan hutan untuk menuju ekonomi hijau menjadi persyaratan pembangunan ekonomi, termasuk upaya untuk mengurangi emisi karbon dari pembukaan lahan hutan dan deforestasi. ISPO (Indonesian Suistainable Palm Oil) merupakan upaya pemerintah untuk menerapkan standar dalam industri kelapa sawit, karena ISPO menekankan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dengan efektivitas dan konsistensi penerapan yang masih dipertanyakan dan minim dampak analisa sosial.

Pada era tahun 2000-an, keprihatinan masyarakat global terhadap kondisi alam semakin meningkat. Keprihatinan ini pada akhirnya melahirkan sebuah paradigma baru yaitu paradigma keberlanjutan (sustainability). Menurut paradigma ini, sumberdaya alam dapat dimanfaatkan untuk pembangunan yang bermanfaat secara ekonomi dan sosial serta kelestarian lingkungan tetap dapat dipertahankan. Paradigma sustainability ini menjadi harmoni aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dari suatu pembangunan, dan sering disebut  dengan 3-P yaitu Profit (aspek ekonomi), People (aspek sosial) dan Planet (aspek lingkungan). Paradigma ini kemudian berkembang menjadi paradigma global dengan disetujuinya platform Sustainable Development Goals (SDGs) 2016-2030 oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015.

Industri sawit sebagai industri strategis di Indonesia memiliki banyak manfaat yang berkontribusi nyata terhadap pencapaian 17 tujuan SDGs. Manfaat  ekonomi dan sosial industri sawit Indonesia telah banyak dibuktikan secara empiris. Namun jasa-jasa lingkungan perkebunan kelapa sawit kerap kali luput dari perhatian masyarakat.  Akibatnya, masyarakat mudah mempercayai propaganda atau kampanye negatif pihak – pihak yang anti sawit yang menghubungkan perkebunan sawit dengan kerusakan lingkungan.

Perkebunan sawit memberikan jasa-jasa lingkungan seperti penyerapan karbondioksida (CO2) sekitar 163 ton CO2/Ha/tahun (Henson 1999), konservasi tanah dan air berupa biopori alami dalam sistem perakarannya (Harahap 1999, 2007), dan menghasilkan berbagai produk turunan yang ramah lingkungan serta energi terbarukan seperti biodiesel, biopremium, bioplastik, dan biogas.

Pendidikan tentang makna keberlanjutan memang masih sangat perlu ditingkatkan di Indonesia.  Masyarakat masih cenderung menganggap keberlanjutan hanya ditinjau dari aspek lingkungan, sehingga mudah percaya kampanye negatif LSM anti sawit yang seolah-olah menganggap sumberdaya alam tidak boleh dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan dan energi dari minyak sawit.  Padahal minyak sawit merupakan satu-satunya jenis minyak nabati di dunia yang memiliki tata kelola dan sertifikasi keberlanjutan (ISPO dan RSPO). Lagipula keberlanjutan (sustainability) merupakan paradigma yang berhubungan dengan bagaimana seharusnya menggunakan sumberdaya, dan bukan untuk sama sekali tidak menggunakan (non-use) sumberdaya (Radjagukguk 2001). Dengan demikian, industri sawit di Indonesia yang secara historis telah berlangsung lintas generasi sejak tahun 1911 dan menjadi bagian reboisasi lahan terlantar bekas illegal logging, merupakan contoh pertanian berkelanjutan yang sejalan dengan platform SDGs.

Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan, namun tetap memberikan produksi yang menjamin kehidupan yang layak bagi pelakunya. Dengan adanya industri kelapa sawit dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dengan mengurangi pengangguran, menyerap tenaga kerja.

Beberapa kegiatan yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan meliputi aspek sosial dan lingkungan dari produktivitas pertanian  seperti konservasi sumberdaya lahan, pengendalian hama terpadu, aplikasi sitem rotasi, dan budidaya penghijauan. Kegiatan selanjutnya adalah menjaga kualitas air pada lahan basah, aplikasi tanaman pelindung, diversifikasi lahan dan tanaman, pengelolaan nutrisi tanaman, agroforesti (wana tani), manajemen pemasaran, serta audit dan evaluasi manajemen pertanian secara terpadu dan holistik.

Jadi dapat disimpulkan pembangunan kelapa sawit berkelanjutan  dapat dicapai dengan memecahkan permasalahan yang terjadi pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dari segi ekonomi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi pengangguran, dari segi sosial dapat meningkatkan kesejahteraan melalui pendistribusian secara merata dari hasil kelapa sawit, dan dari segi lingkungan dapat dapat terjaga dan berkelanjutan dengan memperhatikan tata kelola, serta di aplikasikan dengan tanaman pelindung.

 

Afifah – Universitas Ekasakti Padang

280 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *