Kalau kita ingin rupiah menguat, maka kita harus banyak kembangkan seperti industri sawit yang menambah darah baru sehingga rupiah makin kuat, Sayangnya saat ini sektor industri dan keungan masih menjadi beban, menguras darah ekonomi,  yang membuat rupiah melemah.

Untuk memperbesar ekonomi Indonesia memerlukan tambahan darah segar (injection) setiap tahun dan mencegah keluarnya (lekeages) darah perekonomian.  Jika darah keluar lebih besar dari injeksi darah segar, maka tubuh perekonomian  akan makin kurus, lesu, dan rupiah pun  melemah.  Inilah yang terjadi dalam perekonomian kita saat ini. Sebagian besar industri ekspor dan sektor keuangan  kita bukan hanya tidak menambah injeksi darah segar,  malah mengurangi darah segar dari perekonomian. Defisit sektor industri dan keuangan saat ini melampaui surplus indusri sawit  yang membuat perekonomian kekerangan darah, sehingga  rupiah melemah.

Industri sawit merupakan contoh yang baik dalam memelihara pertumbuhan tubuh perekonomian. Pada satu sisi, industri sawit melalui ekspornya menghasilkan devisa yang merupakan darah segar bagi perekonomian nasional. Tahun 2017 yang lalu, industri sawit menginjeksi darah segar baru berupa devisa ekspor sebesar USD 23 milyar atau Rp 322 trilyun ke dalam perekonomian nasional. Ini adalah injeksi terbesar diantara sektor-sektor ekspor nasional. Tahun ini devisa sawit juga diperkirakan masih mencapai sekitar USD 20 milyar.

Selain injeksi darah segar, industri sawit juga mengurangi keluarnya darah segar atau devisa yang keluar melalui substitusi solar fosil dengan biodiesel. Tahun 2017 dengan B20 sektor PSO saja, industri sawit berhasil mengurangi impor solar sekitar 2.5 juta ton atau setara dengan Rp 12.5 trilyun.  Tahun 2018 ini, dengan per luasan B20 (PSO + Non PSO)  yang sudah berjalan sejak 01 September akan memperbesar penghematan devisa akibat pengurangan impor solar. Sehingga kontribusi industri sawit dalam menambah darah segar dari luar negeri  akan makin besar.

Kedepan, peran industri sawit sebagai penghasil devisa dan penghematan devisa masih cukup besar. Substitusi solar impor oleh biodiesel sawit lebih dalam yakni dari B20 ke B30 akan mampu menghemat impor solar sekitar 11 juta ton atau sekitar USD 12 milyar per tahun. Substitusi impor juga terbuka untuk mengggantikan impor  petroplastik senilai USD 6 milyar per tahun dengan bioplastik dari sawit. Juga mengganti pelumas dan shampo mobil yang impornya sekitar USD 1 milyar per tahun dengan biopelumas dan bioshampo dari sawit.

Tentu saja devisa dari ekspor produk sawit juga tetap kita pacu sehingga devisa ekspor sawit dapat mencapai USD 25 milyar per tahun dalam 2-3 tahun kedepan. Perluasan tujuan ekspor dikombinasikan dengan diversifikasi produk olahan untuk ekspor  tidak sulit untuk menghasilkan devisa sebesar itu.

Dengan demikian kontribusi industri sawit dalam menambah segar darah perekonomian kita kedepan dapat mencapai USD 40 milyar per tahun yakni dari ekspor produk sawit dan substitusi impor. Hal ini akan membuat rupiah makin kuat.

425 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *