Industri menjadi salah satu sektor yang berperan  penting  dalam perkemba ngan dan pembangunan wilayah.Secara umum,kegiatan  industri mampu  menja min keberlangsungan proses pembangunan suatu wilayah.Sehingga kegiatan industri  menjadi salah satu keharusan dalam pembangunan dan perkembangan wilayah. ( Arsyad, 1992 : 31 ) Industri kelapa sawit merupakan salah  satu  indus tri strategis sektor pertanian  (agrobased  industry) yang banyak  berkembang di negara-negara tropis  seperti  Indonesia, Malaysia dan Thailand. Kebun dan industri kelapa sawit menyerap lebih dari 4,5 juta petani dan tenaga kerja dan menyumbang sekitar 4,5 persen dari total nilai ekspor nasional (Suharto, 2007). Hal ini telah menjadikan Indonesia sebagai Negara pengekspor Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia.

Dengan perkembangan perindustrian kelapa sawit ini memicu perkem bangan bisnis kelapa sawit yang ada di Indonesia semakin pesat, data mengenai peta persebaran kelapa sawit di Indonesia dibeberapa wilayah, yang sangat mendo minan adalah bagian Sumatra dan Kalimantan. Berdasarkan luas sektor perkebunan, Sumatra adalah penghasil terbesar produksi minyak kelapa sawit di Indonesia. Ada tiga provinsi di Sumatra yaitu Provinsi Riau, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan.

Adanya persebaran kelapa sawit di Indonesia, menjadi salah satu produksi andalan perkebunan di Indonesia. Beberapa andalan ekspor lainnya di Indonesia adalah kakao, karet, dan tebu manjadi komoditi andalan ekspor dari Indonesia. Dua provinsi terbesar sektor perkebunan kelapa sawit di bagian sumatra Indonesia seperti yang sudah dijelaskan diatas memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia, salah satunya yaitu Provinsi Riau. Pada tahun 2014 Provinsi Riau memiliki lahan perkebunan dengan luas areal 2,30 juta Ha, disusul oleh Provinsi Sumatra Utara dengan luas 1,39 juta Ha (Masheri, 2015).

Pada tahun 2013 luas areal tanaman kelapa sawit di kecamatan Hatonduhan adalah 12.194,16 Ha , dengan hal tersebut maka bisa katakan sumber pendapatan masyarakat yang tinggal dan menetap di kecamatan tersebut didominasi berasal dari segala kegiatan yang berkaitan dengan industri sawit .Dengan luas lahan sawit sebesar 12.194,16 Ha Kecamatan Hatonduhan sudah menjadi salah satu pusat pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit . Pada tahun 2018 sudah ada  pabrik kelapa sawit yang baru dan sudah aktif beroperasi , lokasi pabrik itu tepatnya berada di Desa Buntu Bayu Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun . Dengan diresmikannya PKS baru tersebut, masyrakat desa  memiliki kesempatan kerja yang lebih banyak sehingga mampu mengurangi pengangguran bagi warga desa Buntu Bayu dan sekitarnya .

Perkembangan ini telah mampu mengubah dan mengembangkan perekonomian pedesaan . Pembangunan pedesaan bisa di katakan sebagai salah satu fokus dari berbagai sub kebijakan pembangunan Indonesia. Mengingat : 1). Mayoritas penduduk di Indonesia pada angka 58 persen tinggal dan menetap di daerah pedesaan yang tingkat kesejahteraan perlu di tingkatkan , 2). Angkatan kerja terbesar berada di daerah pedesaan, 3). Jumlah penduduk miskin sebagian besar berada di daerah pedesaan . Oleh karena itu pembangunan pedesaan menjadi salah satu titik fokus yang akan menjadi pusat penerepan kebijakan pembangunan ekonomi di Indonesia.

Industri Sawit yang sudah menjalar pada desa Buntu Bayu ini selain mampu mnegurangi tingkat pengangguran masyarakat desa juga mampu mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat pada desa tersebut , yang awalnya kebanyakan anak muda yang berada di usia kerja harus mencari pekerjaan dengan merantau keluar kota dengan harapan kesukses yang belum tentu pasti tercapai, tetapi dengan adanya industri sawit para anak muda yang berada di desa tersebut sudah tidak bersusah payah lagi untuk mendapatkan pekerjaan di desa itu .

Tidak hanya menjadi pekerja di pabrik itu , tapi dengan hadirnya pabrik itu banyak peluang bisnis yang bisa di buka seperti contoh bisnis di bidang jasa angkut TBS sawit warga untuk di angkut ke PKS , tidak hanya itu manfaat yang dirasakan oleh masyarakat desa tersebut akibat industri sawit yang ada di desa mereka . Melalui penilitian yang sudah di lakukan dengan hanya bermodal kuisioner sederhana dapat di simpulkan bahwa masyarakat di desa tersebut merasakan banyak manfaat yang di rasakan akibat industry sawit yang berada di desa mereka , manfaat tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Peluang Kerja Bagi Masyarakat
  2. Berkembangnya Ekonomi Masyarakat
  3. Pemasaran Tandan Buah Segar(TBS) Jadi Semakin Mudah

Riset World Growth (2011) dan PASPI (2014) mengungkapkan bahwa perkebunan sawit berperan penting dalam pembangunan daerah pedesaan baik dalam menciptakan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, pengurangan kemiskinan dan efek-mulpliernya menggerakkan sektor-sektor ekonomi lainya dipedesan dan perkotaan. Dalam konteks ini perkebunan sawit berkontribusi pada pencapaian SDGs, yakni SDGs-1 (Penghapusan kemiskinan), SDGs-8 (Pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja inklusif), SDGs-10 (Pengurangan ketimpangan). Peningkatan pendapatan yang tercipta secara langsung maupun tak langsung (efek multiplier) akibat berkembangnya perkebunan sawit juga menyumbang pada SDGs-2 (Menghapus kelaparan, perbaikan gizi), SDGs-3 (Hidup sehat) dan SDGs-4 (Pendidikan). Peningkatan pendapatan merupakan variabel terpenting dari akses pangan, perbaikan gizi dan akses pada pendidikan. Akses tersebut didukung pula oleh penyediaaan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang dilakukan oleh perusahaan sawit seperti BUMN dan swasta besar (majalah sawit Indonesia, 2018).

 

Bima Reza Prayoga – Universitas Simalungun

392 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *