Sampai saat ini, potensi industri sawit yang termanfaatkan masih relatif rendah dari potensinya. Pengelolaan rantai pasok dari hulu ke hilir juga masih parsial, jalan sendiri-sendiri dan belum optimal. Produktivitas kebun sawit masih jauh di bawah potensinya. Hilirisasi sawit kita masih dalam tahap permulaan atau terbatas. Proses yang ada pada setiap mata rantai masih banyak yang inefisien, idle, dan menghasilkan limbah/polutan ke lingkungan. Pemanfaatan produk sampingan (by product) yang sebetulnya bernilai ekonomi, secara umum belum dilakukan maksimal.

Dengan kata lain, sistem manajamen dan teknologi yang digunakan dalam industri sawit kita selama ini masih bersifat parsial dan terbatas kapasitas dalam mengelola seluruh faktor-faktor yang berpengaruh pada kinerja maksimum. Akibatnya produksi, laba, manfaat ekonomi dan sosial yang diperoleh hanya sub-optimal serta menghasilkan limbah/polusi terhadap lingkungan.

Pada level perkebunan sawit misalnya potensi produktivitas varietas yang ditanam selama ini sudah berkisar 8-12 ton minyak/ha (PPKS, 2017). Sementara realisasi produktivitas perkebunan sawit secara nasional masih 50 persen dari potensi tersebut. Bahkan pada kebun sawit rakyat masih jauh lebih rendah.

Rendahnya realisasi produktivitas tersebut mencerminkan bahwa sistem manajemen dan teknologi yang ada masih terbatas mengelola seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas. Bagi mahasiswa semester pertama ilmu pertanian sangat memahami bahwa produktivitas (P) disumbang oleh kemampuan genetik (G), kondisi lingkungan (E), dan interaksi genetik dengan lingkungan (GE). Variabel E dan GE ini yang belum terkelola sepenuhnya oleh sistem manajamen yang ada di kebun-kebun sawit kita sehingga produktivitas yang dicapai masih jauh dari yang seharusnya.

Dalam realitas, kondisi ini mudah diamati khususnya kebun-kebun yang disiplin memelihara catatan kebun (farming record). Untuk varietas yang sama, ditanam pada waktu yang sama pada blok-blok kebun yang berbeda, sekalipun dosis pupuk sudah mengikuti rekomendasi dan dipelihara dengan standar kultur teknis, umumnya masih menghasilkan produktivitas TBS di bawah standar dan bervariasi. Mengapa demikian? Jawabanya karena masih banyak faktor yang mempengaruhi produktvitas TBS yang belum kita kelola sesuai yang dibutuhkan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan produksi tanaman sawit.

Selain faktor genetik/varietas, banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas TBS. Pada level penyerapan hara oleh akar tanaman misalnya variasi puluhan faktor kimia, fisika, biologi tanah mempengaruhi ketersediaan dan penyerapan hara oleh akar tanaman. Pada proses pertumbuhan dan produksi tanaman sawit, puluhan faktor ekofisiologi yang mempengaruhinya seperti faktor iklim temperatur, intensitas cahaya matahari, panjang penyinaran, kelembaman, dan lain-lain. Demikian juga dalam proses pemanenan, pengangkutan dan pengolahan di PKS, juga masih banyak faktor yang belum berhasil dikelola.

Faktor-faktor tersebut sebagian besar belum terkelola secara optimum sesuai kebutuhan tanaman sawit. Akibatnya produktivitas yang maksimal belum berhasil kita raih dan bahkan dalam penggunaan input seperti pupuk cenderung berlebihan. Berbagai riset mengungkapkan bahwa sekitar 60-70 persen pupuk Nitrogen yang kita gunakan tidak berhasil diserap tanaman dan terbuang mencemari lingkungan berupa emisi methan dan nitrogen oksida.

Kondisi yang kurang lebih sama juga terjadi pada seluruh aspek pada mata rantai pasok (supply chain) baik industri hilir, pengangkutan, perdagangan, sampai pada level konsumen. Banyak faktor-faktor yang belum mampu dikelola oleh keterbatasan sistem manajemen yang ada sehingga manfaat yang diperoleh masih jauh dari yang seharusnya dan bahkan menjadi beban biaya yang seharusnya tidak perlu.

Solusi yang dihadirkan Industri sawit 4.0 adalah mengelola keseluruhan variabel secara simultan pada semua aspek seluruh mata rantai pasok industri sawit dari hulu sampai ke hilir sedemikian rupa, sehingga produksi, laba, manfaat sosial dan ekonomi maksimal dengan limbah/polusi lingkungan yang minimum. Industri sawit 4.0 merupakan suatu metodologi poduksi baru yang lebih komprehensif, efektif dan berkelanjutan pada setiap supply chain industri sawit dari hulu ke hilir.

Industri Sawit 4.0, pada yang berbasis pada pemanfaatan ilmu pengatahuan dan teknologi (innovation-driven) dengan mengintegrasikan komponen utama yakni Big Data, Artificial Intelligence, Human- Machine Interaction, Digital-to-Physical dan bioteknologi, untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi, nilai tambah, inklusifitas dan meminimumkan polusi/emisi secara berkelanjutan. Dengan kata lain, industri sawit 4.0 juga merupakan suatu metode produksi baru yang dapat membawa industri sawit mencapai sustainable development goals industri sawit.

413 total views, 2 views today

2 thoughts on “Industri Sawit 4.0 dan SDGs-2030”

  1. Jangan sampai petani sawit semakin termarginalkan. Untuk itu petani harus ditingkatkan kapasitasnya untuk produksi minyak sawit sendiri agar bisa bertransaksi langsung mengacu pasar global CPO. Petani tidak menjual TBS karena TBS tidak merupakan barang yang ada di pasar global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *