Indonesia adalah salah satu negara dengan industri komoditi perkebunan terluas di dunia, beberapa komoditi perkebunan tersebut adalah kelapa sawit, kakao, kopi, karet, dll. Kelapa sawit merupakan satu komoditas primadona di Indonesia yang memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, pembangunan lokal, kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan yang terpenting adalah peningkatan kualitas hidup.

Pada tahun 2014 Indonesia memiliki luas lahan perkebunan kelapa sawit sebesar 10,9 juta hektar. Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan merupakan provinsi dengan lahan sawit terluas. Sekitar 51,6% dari 10,9 juta hektar lahan sawit di Indonesia dimiliki oleh perusahaan perkebunan swasta (besar), dan 41,5% dimiliki oleh perkebunan rakyat.

Industri perkebunan kelapa sawit sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dalam sebuah studi yang telah dilakukan di Lampung Timur pada tahun 2015 dimana terjadi peningkatan lahan kelapa sawit hingga 300% dari tahun 2005-2015 maka dari hasil riset menunjukkan data sebesar 10% kenaikan lahan perkebunan kelapa sawit dapat mempengaruhi 0,05% terhadap tingkat penurunan kemiskinan di Indonesia, mempengaruhi 0,02% dalam penurunan tingkat pengangguran, 0,03% peningkatan jumlah lulusan sekolah menengah keatas, 0,12% peningkatan konsumsi non-makanan, sebesar 0,21% peningkatan akses air bersih, dan kenaikan pendapatan perkapita sebesar 1,8%.

Beberapa riset lain dari Standford University mengatakan, setidaknya 1,3 juta orang dapat terentaskan dari kemiskinan sebagai dampak positif langsung dari industri kelapa sawit. Namun seiring berjalannya penumbuhan dan pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia juga harus memperhatikan aspek lain yang tidak kalah penting sebagai salah satu faktor penunjang keberlanjutan dari sektor perkebunan industri yang dijalankan.

Dewasa ini pembangunan industri kelapa sawit haruslah memasang prinsip dengan konteks berkelanjutan, agar dapat menghasilkan produktivitas yang sesuai dengan prinsip dan kriteria dari Sustainable Palm Oil (SPO), yang mengacu kepada nilai-nilai sustainability universal. Untuk itu sangat penting pengelolaan industri perkebunan kelapa sawit yang sustainable, juga berlandaskan tujuan pembangunan berkelanjutan dunia (Sustainable Development Goals / SDGs) yang menjadi tujuan dari semua pembangunan di seluruh belahan dunia.

Dalam rangka Pengembangan industri kelapa sawit dengan pandangan SDGs, Indonesia ikut berpartisipasi dalam Warsaw Humanitarian Expo yang dadakan oleh Warsaw PTAK expo untuk menjamin pencapaian SDGs 2030 di Polandia pada tgl 1-13 Juni 2019 lalu. Dalam acara tersebut Indonesia menampilkan tema “Indonesian Palm Oil and Its Contribution to SDGs” menunjukkan kepada publik bagaimana Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dapat menjamin pencapaian SDGs dalam indusri perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Pada acara yang diadakan di Polandia tersebut Indonesia memaparkan bagaimana industri perkebunan kelapa sawit dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan berbagai sektor lainnya.

Sejak dari tahun 2015 Indonesia sudah menerapkan mekanisme ISPO dengan 7 indikator sebagai tolak ukur untuk dapat memastikan perkembangan industri kelapa sawit dapat berkelanjutan dari segala aspek baik itu lingkungan, kemanusisaan, pendidikan, pengetasan kemiskinan,, peningkatan kualitas kesehatan, energy bersih, pemeberdayaan dan kesetaraan gender.

Konsep pengelolaan tatakelola industri perkebunan yang sesuai dengan konteks berkelanjutan memang sangatlah penting untuk di aplikasikan, integrasi sistem tatakelola perkebunan dan peternakan juga dapat memberikan nilai lebih yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Integrasi ternak hewan ruminansia dimana ternak tersebut diberi makan dengan pelepah pohon atau rumput yang tumbuh di sekitar pohon kelapa sawit dapat membantu sanitasi lahan kelapa sawit, dan kotoran dari hewan ternak tersebut dapat dibuat menjadi pupuk organik yang lebih ramah lingkungan, ekonomis dan efisien dapat diberikan sebagai pupuk organic kelapa sawit tersebut, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimiawi yang dapat merusak tanah dan lingkungan sekitar.

Proses pengelolaan limbah kelapa sawit sebagai produk akhir juga harus sesuai dengan konteks berkelanjutan tanpa mencemari lingkungan dan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan pekerja dan penduduk sekitar lokasi industri. Pengelolaan limbah kelapa sawit lebih lanjut dapat dijadikan sebagai pupuk organik, media tanam, pakan ternak serta berbagai produk lainya, dan hal tersebut juga dapat memberikan nilai profit yang cukup ekonomis jika dikelola dengan baik.

Konsep berkelanjutan dalam pengelolaan industry kelapa sawit haruslah berjalan selaras dengan lingkungan sehingga seluruh faktor tidak ada yang dirugikan dan berjalan sebagaimana mestinya. Profit dapat diperoleh, kelestarian lingkungan dapat terjaga, kesehatan tak terganggu dan tidak membawa dampak negative yang signifikan. Sehingga jika tumbuh kembangnya industry kelapa sawit sesuai dengan prinsip keberlanjutan yang baik dan bersih dapat membantu Indonesia ikut bekontribusi terhadap SDGs 2030 demi dunia yang lebih baik.

 

Darbi Pirmansyah – Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Medan

215 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *