Kerja sama GAPKI dengan Lion Air dalam pengembangan bahan bakar pesawat terbarukan (bioavtur) dari sawit telah ditandantangani pada 10 April 2018. Kerja sama tersebut membuka era baru dalam penerbangan nasional, merubah penerbangan berbasis energi fosil (avtur) saat ini menjadi penerbangan berbasis biofuel (bioavtur) dari sawit.

Tidak dapat dipungkiri, pencemaran udara yang disebabkan oleh emisi bahan bakar pesawat, dinilai menjadi salah satu penyebab pemanasan global. Bahan bakar pesawat yang kita kenal dengan sebagai avtur adalah salah satu menyumbang 2 % emisi CO2 dunia.

Menurut data International Civil Aviation Organization (ICAO), yang merupakan organisasi penerbangan global, pada tahun 1990 emisi CO2 yang disumbang dari penerbangan global setara luas Belanda. Tahun 2005 tumbuh membesar seluas wilayah Perancis, dan diperkirakan pada 2020 akan seluas Kanada. Dengan dasar tersebut, ICAO pada tahun 2016, memutuskan menerapkan skema pengurangan emisi karbon untuk penerbangan global (Carbon Off setting and Reduction Scheme for International Aviation, CORSIA). Langkah ICAO tersebut untuk mencapai penurunan emisi pada tahun 2020 yakni sebesar 50 % dari emisi tahun 2005.

Penggunaan bioavtur sebagai bahan bakar penerbangan cepat atau lambat akan diterapkan, mengingat ICAO telah menetapkan target penurunan emisi tersebut. Pemanfaatan bahan baku terbarukan (renewable resources) untuk produksi bioavtur berbasis minyak nabati seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak kelapa sawit menjadi salah satu solusi. Jika dibandingkan, menurut data Oil World (2008) menunjukkan bahwa produktivitas minyak kedelai (0.45 ton/ha/tahun), minyak rapeseed (0.69 ton/ha/tahun) dan minyak kelapa sawit (4.27 ton/ha/tahun). Jika dilihat produktivitas minyak kelapa sawit per hektar lahan jauh lebih tinggi (8-10 kali lipat) dari produktivitas minyak nabati lainnya. Selain itu juga harga minyak sawit lebih murah dibandingkan minyak nabati lainnya. Sehingga minyak sawit memiliki potensi yang lebih besar sebagai bahan bioavtur.

Di Indonesia pemenuhan kebutuhan bioavtur berbahan baku minyak sawit memiliki peluang stratergis. Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia, sangat mudah untuk mengimplementasikan bioavtur berbasis sawit berkelanjutan. Selain potensi yang sudah dimiliki sangat besar perlu juga dukungan pemerintah juga pengembangan sumber daya manusia (SDM). Dengan demikian Indonesia bukan hanya mendukung dan memperhatikan dampak terhadap lingkungan di dunia. Dengan bioavtur berbasis sawit juga mengembangkan hilirisasi sawit nasional.

552 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *