Istilah gambut pertama kali digunakan sebagai padanan kata “peat” oleh Professor Dr. Ir. Tejoyuwono Notohadiprawiro pada sekitar tahun 1967 saat melakukan peninjauan perencanaan pengembangan lahan pasang surut untuk pertanian di Kalimantan Selatan. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan bahan berupa seresah organik tanaman yang terurai pada kondisi jenuh air, dimana laju penambahan material organik lebih cepat daripada laju penguraiannya. Kondisi lahan gambut yang memiliki sifat khas demikian, menjadikan gambut sebagai sumberdaya alam yang istimewa dan memiliki keanekaragaman hayati yang khas serta memiliki fungsi hidrologis yang mampu menyimpan air tanah dalam jumlah yang sangat besar.

Berdasarkan peta Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat 673 KHG di seluruh wilayah Indonesia dengan total luas lahan gambut 26.4 juta hektar. Lahan gambut tersebut tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Papua, dan sebagain kecil di Sulawesi. Sebagai negara yang memiliki lahan gambut yang luas, Indonesia memiliki peraturan terkait pengelolaan ekosistem gambut yaitu Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016. Berdasarkan peraturan tersebut, ekosistem gambut di Indonesia dibagi menjadi dua fungsi yaitu fungsi lindung dan fungsi budidaya. Kelestarian ekosistem gambut dipertahankan dengan adanya batas minimal fungsi lindung KHG sebesar 30 persen. Pembagian fungsi ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam melakukan pembangunan secara berkelanjutan.

Peraturan Pemerintah ini juga menunjukkan bahwa budidaya kelapa sawit di lahan gambut tidak dilarang selama berada di ekosistem gambut dengan fungsi budidaya. Budidaya kelapa sawit di lahan gambut ini dilakukan dengan manajemen pengelolaan lahan yang mampu mempertahankan kondisi ekosistem gambut agar tidak mengalami kerusakan. Berdasarkan PP No.57/2016, ekosistem gambut dengan fungsi budidaya dianggap mengalami kerusakan apabila muka air tanah di lahan gambut tersebut lebih dari 0.4 meter di bawah permukaan gambut, atau tereksposnya sedimen berpirit atau kwarsa di bawah lapisan gambut.

Ekosistem gambut di Indonesia dikelola dengan baik sesuai pembagian fungsinya, sementara Eropa yang sering mengkritik kebun sawit gambut Indonesia ternyata melakukan eksploitasi yang besar di lahan gambutnya. Menurut laporan Fuel Peat Industry in EU (VTT, 2005), lahan gambut di Eropa telah lama rusak karena kegiatan menambang gambut (seperti batu bara) atau dibakar sebagai bahan bakar/energi. Eropa menggunakan sumberdaya gambut untuk bahan bakar sebesar 1,65 juta Ktoe.

Saat ini setidaknya ada 117 pembangkit listrik di kawasan Eropa yang menggunakan gambut sebagai bahan bakar dan 651 perusahaan produsen gambut yang tersebar di Finlandia, Irlandia, Swedia, Estonia, Latvia, Lithunia dan lainnya. Kegiatan ini menyebabkan hilangnya lahan gambut Eropa  sekitar 10,73 juta hektar sampai saat ini (Wet International, 2010, International Peat Society, 2002). Sementara dari total lahan gambut Indonesia, hanya 6 juta hektar yang dimanfaatkan untuk pertanian dan sisanya merupakan ekosistem gambut dengan fungsi lindung. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mengelola ekosistem gambut lebih baik dari pada Eropa.

207 total views, 6 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *