Kemewahan BBM minyak bumi yang pernah dinikmati Indonesia kini tinggal kenangan. Sejak tahun 2004 lalu Indonesia telah berubah dari negara eksportir minyak bumi menjadi net importir minyak bumi. Setiap tahun terjadi peningkatan impor minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Minyak bumi yang tergolong energi tak dapat dibaharui (non renewable) pasti suatu saat akan habis cadanganya di perut bumi. Padahal kebutuhan energi kedepan makin meningkat terus, seiring dengan makin intensifnya pembangunan dan kehidupan manusia di planet bumi.

Maka, bersiaplah suatu saat masyarakat dunia berebutan energi. Indonesia memang beruntung. Minyak bumi atau minyak “di bawah” tanah (karena diambil dari dalam tanah/perut bumi) akan habis. Namun, minyak “di atas” tanah (diambil dari buah sawit diatas tanah)  yakni minyak sawit  sudah siap untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dari minyak sawit saat ini sudah berhasil kita hasilkan dan gunakan biodiesel sawit (FAME) untuk mengganti solar fosil. Sejak 01 September  2018 solar/diesel yang dipakai di Indonesia sudah mengandung 20 persen (B20) biodiesel sawit, yang berarti mengurangi penggunaan solar fosil yang kita impor. Tahun depan kita berharap naik kelas lagi menjadi B30 yakni 30 persen solar/diesel yang kita konsumsi mengandung 30 persen biodiesel. Dengan B30 tersebut  tahun depan kita bisa kurangi solar  fosil sebesar 30 persen atau setara 10 juta ton solar fosil.

Selain itu, dalam waktu tak terlalu lama lagi, kita juga akan hasilkan bensin hijau (biopremium) bahkan bioavtur dari sawit. Sehingga kita akan memasuki babak baru mengganti bensin fosil (gasoline) dengan bensin hijau dari minyak sawit secara bertahap.

Dari sawit kita, tidak hanya menghasilkan bahan pangan dan energi. Dari sawit juga dapat dihasilkan bioplastik pengganti petroplastik yang kita impor setiap tahun. Impor petroplastik kita sekitar 6 milyar dollar Amerika Serikat setiap tahun. Petropalstik tersebut bersifat sulit terurai secara alamiah (non biodegradble) sehingga setelah digunakan  menjadi tumpukan sampah yang mengotori perairan atau mengotori lingkungan. Indonesia adalah negara kedua terbesar menghasilkan sampah plastik yang telah mengotori lingkungan. Karena itu, penggantian petroplastik dengan bioplastik dari sawit  menjadi prioritas. Bioplastik yang mudah terurai secara alamiah (biodegradable) tidak akan menumpuk mencemari lingkungan.

Minyak “di atas” sebagai pengganti minyak yang “di bawah”  tersebut jauh lebih bermanfaat baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Proses produksinya yakni dari kebun-kebun sawit, memutar roda ekonomi daerah, menciptakan dan meningkatkan pendapatan  serta  menyerap jutaan tenaga kerja  pada 200 kabupaten di pelosok-pelosok. Bedanya lagi, minyak “di atas” tersebut menyerap karbon dioksida dari udara bumi serta menghasilkan oksigen untuk kehidupan. Sementara minyak yang “di bawah” justru memproduksi karbon dioksida ke udara bumi yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan lingkungan.

Jadi minyak yang “di atas” tersebut yakni kebun sawit  menghasilkan bahan makanan, bakar ramah lingkungan, biomaterial, membersihkan udara bumi (menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen). Sepanjang matahari masih bersinar, minyak “di atas” tersebut akan tetap dihasilkan dari generasi ke generasi atau berkelanjutan.

573 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *