Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari penggunaan gula di setiap makanan dan minuman baik di sektor rumah tangga maupun di sektor industri yang menggunakan gula sebagai salah satu bahan utamanya.

Dengan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia menyebabkan konsumsi gula di dalam negeri mengalami peningkatan. Peningkatan konsumsi gula ini tidak diiringi dengan peningkatan laju produksi gula sehingga adanya ketidakseimbangan antara jumlah konsumsi yang terus meningkat dan laju produksi yang rendah. Untuk itu dilakukan impor gula guna memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.

Tahun 2000, konsumsi domestik gula di Indonesia mencapai 3.3 juta ton dan mengalami peningkatan menjadi 4.7 juta ton pada tahun 2010. Tingkat konsumsi gula ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai 6.4 juta ton pada tahun 2018 dan diproyeksikan akan terus bertambah setiap tahunnya. Sedangkan produksi gula tebu di Indonesia hanya 1.69 juta ton pada tahun 2000 dan mengalami peningkatan menjadi 2.10 juta ton pada tahun 2018. Data produksi gula tersebut menunjukkan bahwa produksi domestik tidak dapat memenuhi konsumsi gula domestik.

Kegagalan pemerintah untuk mencapai target swasembada gula dilihat dari penundaan target menjadi pada tahun 2014 dan 2019. Hal ini disebabkan karena inefisiensi pabrik gula yang memiliki umur teknis sudah tua, kurangnya lahan gula, masalah revitalisisa perkebunan hingga adanya isu kartel yang menghambat swasembada gula di Indonesia (Nasution, 2013). Oleh karena itu, dibutuhkan solusi lain dalam rangka mengurangi ketergantungan impor gula di Indonesia.

Industri sawit selain sebagai basis ketahanan energi, juga merupakan basis ketahanan pangan melalui produksi bahan pangan berbasis minyak (oleofood complex). Gula merah dari batang kelapa sawit tua yang ditebang pada saat replanting dapat dijadikan sebagai solusi dengan berbagai keunggulannya. Pertama, gula merah dari sawit lebih sehat karena susunan penyusunnya berupa sukrosa. Kedua, gula merah dari sawit ini memiliki keunggulan dalam pencegahan penyakit diabetes yang lebih baik dibanding gula pasir putih.

Dengan demikian solusi yang dihadirkan dengan pengembangan gula merah berbahan dasar sawit dapat dijadikan sebagai substitusi impor yang dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor gula.

1,121 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *