Keterlibatan petani rakyat dalam mengusahakan kebun sawit yang dimulai sekitar tahun 1980-an dengan adanya berbagai pola kemitraan yang diterapkan pemerintah. Berdasarkan umur ekonomis kelapa sawit, banyak perkebunan sawit rakyat tersebut yang sudah memasuki umur tua dan harus diremajakan kembali. Namun pada kenyataannya, banyak petani yang terkendala biaya untuk melakukan proses peremajaan di kebun – kebun sawit miliknya sehingga kondisi saat ini masih banyak kebun – kebun sawit rakyat yang memasuki umur tua atau bahkan rusak. Kondisi ini apabila dibiarkan terus menerus akan menghambat industri sawit nasional di masa depan yang kebutuhan terhadap minyak sawitnya akan terus meningkat.

Pemerintah telah berupaya membantu peremajaan kebun sawit rakyat dengan memberikan bantuan biaya peremajaan yang didanai oleh BPDP Kelapa Sawit. Namun realisasi upaya ini masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah di tahun 2018 yaitu 185.000 hektar. Oleh sebab itu, petani butuh sumber pendanaan lain yang dapat memenuhi kebutuhan dana untuk proses peremajaan kebun sawit.

Potensi sumber pendanaan tersebut ternyata berada di kebun sawit rakyat yang akan diremajakan itu sendiri. Ternyata batang pohon sawit tua yang ditebang dalam proses peremajaan memiliki potensi menghasilkan air nira yang  dapat diolah menjadi gula merah sawit. Batang kelapa sawit yang sudah ditebang ini dapat menghasilkan air nira selama 30-40 hari dengan produksi 5-7 liter per hari. Apabila air nira ini diolah menjadi gula merah, dengan tingkat rendemen gula 20% – 30% maka dapat dihasilkan gula merah sawit 1,2 – 1,75 kg/pohon/hari selama fase produksi air nira tersebut.

Menurut Siahaan (2018), potensi produksi gula merah sawit ini secara ekonomi dapat memberikan pendapatan bagi petani sebesar Rp14.931.875 per hektar. Perhitungan ini dilakukan dengan asumsi usaha produksi gula merah sawit dilakukan oleh kelompok petani sebanyak 10 orang  yang masing – masing memiliki kebun 2 hektar dengan populasi 120 pohon sawit per hektar. Setiap batang pohon sawit diperkirakan akan menghasilkan 5,5 liter air nira selama 30 hari. Sehingga selama fase produksi tersebut dapat dihasilkan 228 kg/ha/hari gula merah sawit.

Keunggulan dari gula merah sawit ini yaitu lebih sehat dibandingkan gula merah lainnya karena susunan penyusunnya berupa sukrosa sehingga tidak menyebabkan diabetes. Namun tekstur gula merah sawit tidak terlalu keras dan rasanya sedikit kurang manis apabila dibandingkan gula merah dari pohon aren. Oleh sebab itu, petani – petani sawit rakyat yang sudah mulai mengusahakan gula merah sawit ini masih melakukan pencampuran air nira sawit dengan gula sebanyak 25 persen dalam proses produksi untuk menyamai tekstur dan rasa gula merah aren. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan preferensi konsumen agar gula merah sawit dapat bersaing  di pasaran.

Dengan potensi pendapatan tersebut, petani sawit rakyat harusnya melihat ini sebagai sumber pendanaan untuk proses peremajaan. Hal ini karena air nira diperoleh dari batang sawit tua yang sudah ditebang, yang memang harus ditebang pula saat melakukan peremajaan kebun sawit. Sehingga dapat dikatakan bahwa proses produksi gula merah sawit ini tidak mengganggu teknis peremajaan yang dilakukan pada kebun tersebut.

Potensi produksi gula merah sawit ini juga harus menjadi perhatian pemerintah karena selama ini Indonesia masih melakukan impor gula. Produksi gula merah sawit dapat menjadi substitusi impor gula sehingga akan menghemat devisa dalam jumlah yang besar. Apabila dihitung dengan asumsi peremajaan di perkebunan sawit secara nasional sebesar 4 persen per tahun dari total luas area, maka produksi gula merah sawit dapat mencapai 2,5 juta ton. Dengan potensi gula merah sawit sebesar ini apabila dikombinasikan dengan produksi gula dari tanaman lain, maka Indonesia di masa depan dapat mencapai target swasembada gula.

2,071 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *