Dalam beberapa minggu terakhir Greenpeace membuat propaganda dan penghasutan di media sosial  bahwa minyak sawit adalah minyak kotor.  “Minyak kotor” yang dituduhkan Greenpeace terhadap minyak sawit sungguh tidak berdasar dan mempertontonkan kedunguan berpikir dan miskin pengetahuan. Mengapa?

Pertama, Tuduhan  “minyak kotor”  Greenpeace seharusnya  lebih tepat dialamatkan  ke minyak bumi dan batu bara. Mengapa?  Sebagaimana laporan International Energy Agency (IEA, 2016) sekitar 70 persen  emisi karbon dunia yang mengotori udara bumi adalah konsumsi energi fosil (minyak bumi, batu bara, dll). Konsumi minyak bumi terbesar antara lain adalah negara Uni Eropa, Amerika Serikat, India, dan Cina. Oleh karena itu, minyak bumi dan batu bara sangat tepat disebut sebagai “minyak kotor” karena mengotori udara bumi.

Kedua, detergen, pelumas, surfaktan dan bahan-bahan kimia industri dunia menggunakan turunan dari minyak bumi yang limbahnya bukan hanya mengotori sungai-sungai dan laut tetapi juga mematikan kehidupan di perairan. Selain itu, produk turunan dari minyak bumi seperti  plastik (petroplastik) yang dikonsumsi di seluruh dunia  menimbulkan sampah plastik dan mengotori  perairan umum di seluruh dunia.  Jadi yang patut disebut minyak kotor adalah minyak bumi dan turunannya karena mengotori perairan, tanah dan mematikan kehidupan disana.

Ketiga, Sebaliknya, minyak sawit yang dihasilkan dari tanaman sawit justru layak disebut “minyak bersih“. Tanaman perkebunan kelapa sawit justru menyerap karbondioksida dari udara bumi melalui proses fotosintesa/asimilasi pada tanaman sawit dirubah menjadi minyak sawit dan dihasilkan oksigen untuk kehidupan. Jadi tanaman sawit justru membersihkan udara bumi sehingga  minyak sawit patut disebut sebagai  minyak bersih, karena bukan hanya  membantu membersihkan udara bumi dari polusi karbon tetapi juga menghasilkan oksigen untuk kelestarian kehidupan di bumi.

Keempat, saat ini disetiap negara dunia termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat mengembangkan biodiesel berbahan baku minyak nabati (minyak sawit, minyak kedelai, minyak bungamatahari, dll) untuk menggantikan minyak bumi (solar/diesel) yang kotor itu. Para ahli sudah banyak membuktikan bahwa biodiesel jauh lebih bersih dibandingkan dengan minyak bumi, karena itulah setiap negara berupaya mengganti minyak bumi dengan biodiesel untuk energi. Tentu ahli-ahli dan pemimpin  Uni Eropa dan Amerika Serikat tidak dungu untuk menggembangkan biodiesel sebagai pengganti energi fosil.

Kelima, penggunaan minyak sawit saat ini juga digunakan untuk membuat biodetergen, biosurfaktan, biopelumas dan biokimia untuk industri yang ramah lingkungan sebagai pengganti detergen, pelumas dan kimia berbahan turunan minyak bumi yang kotor itu.

Keenam, selain untuk pengganti energi fosil tersebut, saat ini juga sedang dikembangkan bioplastik sawit untuk mengganti plastik dari minyak bumi yang kotor itu. Plastik dari minyak bumi sulit terurai (nondegradable) dan beracun (toxic) sehingga sampahnya menumpuk dan mengotori perairan dunia. Sementara bioplastik dari sawit mudah terurai (biodegradable) sehingga jika tidak dipakai lagi, dengan cepat terurai secara alamiah dan tidak mengotori lingkungan/perairan.

Jika benar Greenpeace adalah pejuang atau penyelamat lingkungan seperti yang dipropaganda selama ini, seharusnya Greenpeace justru menjadi barisan terdepan untuk mempromosikan pengurangan bahkan penghapusan penggunaan minyak bumi dan turunannya sebagai energi, maupun bahan baku produk kimia secara global, dan menggantikannya dengan minyak nabati seperti minyak sawit. Ataukah Greenpeace sudah berubah menjadi yang lain ” Maju Tak Gentar, Membela Yang Bayar“?

741 total views, 14 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *