Rencana embargo sawit Uni Eropa yang dimulai tahun 2020 beserta gerakan palm oil free yang dipaksakan pada industri penggunaan minyak sawit multinasional, akan dibayar mahal oleh masyarakat  dunia berupa hilangnya sekitar 20 juta hektar hutan dunia. Kok, bisa begitu ?

    Masyarakat Uni Eropa (EU) merupakan salah satu kawasan net importir minyak nabati terbesar dunia. Sekitar  60 persen kebutuhan minyak nabati EU, harus dipenuhi dari impor yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak bunga matahari dan lain-lain.  Ruang gerak peningkatan produksi minyak nabati EU dari dalam negeri yakni  minyak rapeseed dan minyak bunga matahari, sudah sangat terbatas karena keterbatasan lahan. Sebagaimana studi FAO, jika EU melakukan swasembada minyak nabati, sekitar 70 persen lahan pertaniannya harus dikonversi menjadi lahan tanaman biofuel. Hal ini jelas tidak mungkin karena resikonya ketahanan pangan EU akan terancam.  Jadi memasok minyak nabati dari  impor, tetap jadi pilihan terbaik bagi EU.

    Volume impor minyak sawit EU saat ini sekitar 7 juta ton per tahun untuk bahan pangan, biofuel dan industri oleokimia. Diperkirakan dalam periode 2020-2030 volume impor minyak sawit EU akan mencapai rata-rata 10 juta ton per tahun untuk bahan pangan, energi dan industri oleokimia.

    Apa yang terjadi jika EU benar-benar menghentikan penggunaan minyak sawit? Pilihannya hanya dua. Pertama, meningkatkan produksi rapeseed dan bunga matahari baik di EU maupun di kawasan Eropa lainya (diluar EU). Hal ini berarti areal tanaman bunga matahari dan rapeseed harus di perluas. Dengan produksi minyak rata-rata rapeseed dan bunga matahari hanya sekitar 0.5 ton/ha, maka untuk menggantikan impor 10 juta minyak sawit, diperlukan 20 juta hektar lahan baru untuk kebun bunga matahari dan rapeseed. Hal ini akan mengkonversi lahan hutan (deforestasi) Eropa besar-besaran.

    Pilihan kedua, mengganti impor sawit dengan meningkatkan impor minyak nabati lain seperti minyak kedelai dari Amerika Selatan. Jika EU memilih pilihan kedua ini mengganti impor sawit dengan impor minyak kedelai atau minyak nabati lain, maka untuk menggantikan 10 juta ton minyak sawit memerlukan ekspansi lahan kebun kedelai (atau tanaman biofuel lain) seluas 20 juta hektar. Hal ini berarti menambah konversi (deforestasi) hutan dunia seluas 20 juta hektar lagi.

    Dengan kata lain, jika EU melakukan embargo sawit, maka EU mensponsori terjadinya deforestasi hutan dunia yang lebih besar lagi yakni 20 juta hektar. Sementara jika EU tetap mengkonsumsi minyak sawit, tidak perlu lagi tambahan deforestasi hutan dunia karena kebun sawit  sudah berproduksi selama ini. Untuk memenuhi kebutuhan 10 juta ton minyak sawit cukup dari 2 juta hektar kebun sawit.

    Jadi pilihan EU untuk embargo sawit, merupakan pilihan yang lebih jelek(inferior) dari sudut ekonomi dan ekologis. Bahkan pilihan yang kontradiksi dengan tujuan EU itu sendiri. EU mengembargo sawit agar deforestasi berhenti, tetapi ternyata justru memacu deforestasi hutan dunia yang makin besar.

1,062 total views, 4 views today

One thought on “Eropa Embargo Sawit, Hutan Dunia Hilang 20 Juta Hektar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *