Sepintas, niat baik Uni Eropa (EU) mempersoalkan emisi Indirect Land Use Change (ILUC) minyak sawit untuk mengurangi emisi global sangat mulia. Sayangnya, EU hanya bernafsu mempersoalkan emisi sawit yang sebetulnya secara netto justru mengurangi emisi dunia, sementara emisi EU sendiri yang termasuk top ten emitter GHG dunia tidak menjadi keprihatinan.

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA, 2016) emisi EU tahun 2014 mencapai 3.16 juta ton CO2 eq (hanya dari konsumsi energi fosil) yang menempatkan UE penyumbang emisi tiga besar dunia setelah China dan USA. Jika dihitung emisi per orang EU juga cukup besar yakni  rata-rata 6.22 ton CO2 eq per orang. Bandingkan dengan emisi orang Indonesia yakni 1.72 ton CO2 eq per orang.  Berarti emisi per orang masyarakat EU empat kali lebih besar dari emisi per orang masyarakat Indonesia.

Sementara emisi ILUC minyak sawit sangat kecil bahkan jika minyak sawit digunakan sebagai bahan baku biodiesel untuk mengganti sebagian fosil fuel, emisi netto minyak sawit bahkan negatif atau mengurangi emisi dunia.

Hasil riset International Food Policy Research Institute Eropean Comission (IFPRI-EC) yang justru bagian dari Uni Eropa sendiri, dalam laporan risetnya berjudul : Global Trade and Environmental Impact Study of the EU Biofuels Mandate, telah mengungkapkan bahwa emisi netto minyak sawit adalah minus 18.25 gram CO2/MJ/tahun sampai minus 22.43 gram CO2/MJ/tahun. Mengapa menurunkan emisi? Menurut peneliti tersebut karena produktivitas minyak sawit 6-10 kali dari minyak nabati lainya.  Artinya minyak sawit yang digunakan menjadi biodiesel bukan menambah emisi dunia tapi menurunkan emisi dunia. Setiap satu Mega Joule energi biodiesel sawit, secara netto akan mengurangi emisi dunia sebesar 18-22 atau rata-rata 20 gram CO2 setiap tahun.

Bahkan minyak sawit jauh lebih ramah lingkungan bagi UE dibandingkan dengan minyak rapeseed maupun minyak sunflower. Hasil studi IFPRI tersebut juga mengungkap bahwa penggunaan minyak rapesed dan minyak sunflower justru meningkatkan emisi dunia, sebaliknya  minyak sawit menurunkan emisi dunia.

Dengan emisi netto minyak sawit yang justru mengurangi emisi dunia, seharusnya masyarakat EU berterima kasih ke Indonesia. Ekspor minyak sawit  untuk biodiesel EU menghadirkan solusi sebagaimana hasil studi IFPRI -EC,  yakni mengurangi emisi dunia termasuk emisi EU yang sangat besar itu.

722 total views, 25 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *