Kebun sawit pertama (tahun 1911)  dikembangkan hanya pada dua provinsi yakni Sumatera Utara dan Aceh. Dari dua provinsi tersebut, sawit berkembang ke propinsi lain di Indonesia. Produksi CPO perdana di Provinsi Riau mulai tahun 1982, kemudian disusul Sumatera Selatan tahun 1983. Kemudian produksi perdana di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, dan Papua  tahun 1984, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur (1986), Jambi dan Lampung (1987), Bengkulu (1988) dan Sulawesi  (1989).

Sampai tahun 2017, kebun sawit telah berkembang pada sekitar 26 provinsi dan sekitar 200 kabupaten. Sedangkan kegiatan hilir industri sawit secara keseluruhan khususnya perdagangan produk sawit telah berkembang pada seluruh provinsi/kabupaten/kota di Indonesia. Semua masyarakat Indonesia sudah mengkonsumsi berbagai produk sawit selama 24 jam. Dimana saja, Kapanpun, Siapapun  produk sawit sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat.

Ekspansi kebun sawit dari Aceh dan Sumatera Utara keseluruh provinsi tersebut  dapat dipandang sebagai perluasan dan distribusi  “mesin ekonomi” untuk menghasilkan dan membagi “kue ekonomi”. Dengan ekspansi kebun sawit tersebut, potensi masing-masing  daerah di berbagai pelosok, pedalaman, pinggiran (yang sebelumnya belum dimanfaatkan)  oleh “mesin ekonomi” bernama usaha kebun sawit, potensi masing-masing daerah didayagunakan untuk menghasilkan “kue ekonomi” berupa kesempatan kerja, kesempatan berusaha, pendapatan dan penyediaan multi produk berbasis sawit. Jutaan orang memeperoleh pekerjaan pada kegiatan sawit dan jutaan orang terbebas dari kemiskinan bahkan juga jutaan orang meningkat pendapatannya.

Kebun sawit selain “mesin ekonomi” juga berfungsi sebagai “vacum air cleaner”, pembersih udara, yang menghasilkan “kue ekonomi jasa lingkungan” yakni menyerap karbondioksida dari udara dan menghasilkan oksigen untuk kehidupan. Polusi udara yang kita buang setiap hari dari gas buang kenderaan bermotor, sebagian dibersihkan oleh kebun sawit. Kebun sawit juga menghasilkan oksigen yang kita hirup setiap hari.

Melalui hilirisasi dan perdagangan, “kue ekonomi” berbagai produk berbasis sawit seperti minyak goreng, mentega, sabun, deterjen, sampho, biodiesel dan lain-lain, disediakan untuk seluruh masyarakat dimanapun, siapapun dan kapanpun. Ini  juga namanya membagi manfaat “kue ekonomi” sawit. Sawit for all.

Dengan ekspansi sawit dari Aceh dan Sumut keseluruh propinsi, “kue ekonomi” dari sawit tidak hanya dinikmati masyarakat Aceh dan Sumut, tetapi  juga dinikmati seluruh masyarakat di Indonesia. Jadi, ekspansi kebun sawit tidak perlu dipersoalkan asalkan dilakukan dengan tatakelola yang berkelanjutan dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4,615 total views, 322 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *