Biosurfaktan Sawit Untuk Naikkan Produksi Minyak Bumi

Aplikasi biosurfaktan sawit pada sumur-sumur minyak bumi, mampu mengangkat sekitar 40 persen minyak bumi yang tersisa di dasar sumur minyak bumi

Tak dapat dipungkiri ketergantungan masyarakat dunia pada minyak bumi (BBM fosil) masih sangat besar. Indonesia juga masih tergantung pada BBM fosil tersebut. Tahun 2016 ini pemerintah menargetkan produksi minyak bumi sekitar 830 ribu barel per hari. Produksi minyak tersebut baru memenuhi separuh dari kebutuhan nasional. Lebih dari separuh kebutuhan minyak bumi kita harus diimpor.

Menurut para ahli pertambangan, dalam proses penambangan minyak bumi, ternyata masih tersisa sekitar 35-40 persen minyak yang terperangkap dalam lapisan dan pori-pori bebatuan dalam sumur minyak bumi. Teknologi biasa tidak bisa mengangkat minyak tersebut.

Menurut Prof. Suryo Purwono Guru Besar Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, maupun Prof. Erliza Hambali Guru Besar Biosurfaktan Institut Pertanian Bogor, mengemukakan bahwa dengan menginjeksi biosurfaktan ke dalam sumur-sumur minyak, mampu mengangkat sekitar 40 persen sisa minyak bumi yang terperangkap tersebut. Biosurfaktan dapat menurunkan tegangan antar muka minyak bumi dengan air, sehingga sisa minyak dapat dikumpulkan di dasar sumur dan mudah dipompa ke atas.

Sumber biosurfaktan temurah dan tersedia dalam jumlah banyak serta berkesinambungan adalah dari minyak sawit. Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar dunia dengan produksi sekitar 34 juta ton dan berkesinambungan.

Selama ini penggunaan biosurfaktan dalam kehidupan sehari-hari sudah banyak. Berbagai jenis sabun, shampo, bahan-bahan pembersih lainnya,  telah menggunakan biosurfaktan sawit. Kemampuan biosurfaktan sawit dalam mengikat lemak dan minyak membuat penggunaan biosurfaktan cukup luas sebagai pembersih.

Penggunaan biosurfaktan untuk meningkatkan perolehan minyak bumi dari sumur-sumur tua, berarti minyak sawit makin penting bagi perekonomian kita. Perolehan (lifting) minyak bumi masih dapat ditingkatkan dari sumur-sumur tua yang kita miliki. Dan tentunya akan dapat mengurangi impor BBM fosil. Bahkan kesempatan Indonesia untuk mengekspor biosurfaktan sawit ke negara-negara produsen minyak bumi seperti negara-negara Timur Tengah juga terbuka luas.

Beruntunglah Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia. Pemanfaatan minyak sawit ternyata sangat luas dan makin meluas bagi kehidupan manusia. Mari kita rawat perkebunan sawit sebagai asset nasional yang tidak dimiliki negara lain. Kita jaga dari intervensi asing lewat LSM anti sawit yang me-ngobok-obok industri sawit nasional.

593 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *