Kondisi ketahanan energi Indonesia sampai saat ini masih bertumpu pada impor bahan bakar fosil. Hal ini telah berlangsung sejak tahun 2006 dan telah membebani devisa negara sangat besar untuk memenuhi selisih antara produksi dan konsumsi bahan bakar di Indonesia. Menurut perhitungan Siregar (2018), saat ini Indonesia mengalami defisit sebesar 80,9 juta liter per hari atau 700 ribu barel per hari dan membebani devisa negara sebesar 49 juta USD per hari (jika dihitung menggunakan  harga BBM 70 USD per barel dan 1 USD = Rp.14.900,-) atau setara dengan Rp.730,1 milyar per hari. Hal ini menunjukkan ketahanan energi Indonesia masih rapuh karena ketergantungan dengan sumber energi fosil.

Namun industri sawit sebagai industri strategis Indonesia memiliki solusi pencapaian ketahanan energi melalui hilirisasi produk sawit menjadi sumber energi terbarukan. Sejak tahun 2008, pemerintah telah menerapkan kebijakan mandatori biodiesel untuk mengurangi impor solar Indonesia. Dan sejak awal September 2018, implementasi kebijakan ini diperluas ke sektor non-PSO sehingga akan berdampak lebih pada penghematan impor solar.

Selain biodiesel, saat ini Indonesia sedang fokus melalukan hilirisasi minyak sawit lebih lanjut untuk menghasilkan Biohidrokarbon sebagai sumber energi terbarukan. Melalui biohidrokarbon sawit ini, Indonesia dapat menghasilkan green gasoline pengganti premium fosil, green avtur pengganti avtur fosil, dan juga green diesel pengganti solar fosil. Biohidrokarbon ini ditargetkan akan diproduksi dalam skala industri pada tahun 2020. Temuan ini dapat mengurangi jumlah impor bahan bakar fosil Indonesia yang diproyeksikan akan semakin besar seiring peningkatan jumlah kebutuhan Indonesia. Menurut data USDA (2017), kebutuhan bahan bakar fosil Indonesia pada tahun 2025 mencapai 114 juta kL dengan rincian gasoline sebanyak 54 juta kL, diesel sebanyak 53 juta kL, dan jet fuel sebanyak 7 juta kL.

Menurut perhitungan, 1 ton CPO dapat menghasilkan 5,24 – 5,96 barel biohidrokarbon (1 barel = 115,63 liter). Dengan jumlah produksi CPO Indonesia yang sudah lebih dari 30 juta ton, maka pengembangan biohidrokarbon sangat potensial dijadikan sebagai solusi baru ketahanan energi Indonesia. Pengembangan biohidrokarbon di dalam negeri akan menyerap CPO dalam jumlah besar sebagai bahan baku produksinya yaitu sekitar 30,3 juta ton pada tahun 2020. Hal ini tentu akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap eskpor CPO. Produksi CPO Indonesia akan dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri baik untuk kebutuhan pangan, bahan kimia, dan sumber energi terbarukan.

353 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *