Perekonomian makro Indonesia, industri minyak kelapa sawit memiliki peran strategis, antara lain penghasil devisa terbesar, lokomotif perekonomian nasional, kedaulatan energi. Perkembangan industri minyak sawit Indonesia yang berkembang cepat tersebut telah menarik perhatian masyarakat dunia, khususnya produsen minyak nabati utama dunia. Selain itu industri kelapa sawit berkontribusi dalam pencapaian pembanguan berkelanjutan dalam hal ini untuk mencapai pembangunan berkelanjutan tersebut adanya sistem pertanian berkelajutan. Pertanian berkelanjutan merupakan sebuah pengelolaan dan konservasi sumber daya alam yang bertujuan menjamin keberlanjutan sumber daya lahan, air, serta sumber genetik tanaman dan hewan yang dilakukan dengan baik dan layak secara ekonomi dan sosial.

Mengapa Bersahabat dengan Kelapa Sawit melalui Pertanian Berkelanjutan?

Kelapa Sawit merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan andalan dan merupakan penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Produksi kelapa sawit Indonesia memiliki urutan yang pertama. Dibalik kesuksesannya, tidak dapat dipungkiri ternyata kelapa sawit bermanfaat bagi manusia dengan memberikan jasa-jasa lingkungan seperti penyerapan karbondioksida (CO2) sekitar 163 ton CO2/Ha/tahun (Henson 1999), konservasi tanah dan air berupa biopori alami dalam sistem perakarannya ( Harahap 1999,2007), dan menghasilkan berbagai produk turunan yang ramah lingkungan serta energi terbarukan seperti biodiesel, biopremium, bioplastik, dan biogas.

Pada era tahun 2000-an, keprihatinan masyarakat global terhadap kondisi alam semakin meningkat. Keprihatinan ini pada akhirnya melahirkan sebuah paradigma baru yaitu paradigma keberlanjutan (sustainability). Menurut paradigma ini, sumberdaya alam dapat dimaanfaatkan untuk pembangunan yang bermanfaat secara ekonomi dan sosial serta kelestarian lingkungan tetap dapat dipertahankan. Paradigma sustainability ini menjadi harmoni aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dari suatu pembangunan dan sering disebut 3P yaitu Profit (aspek ekonomi), People (aspek sosial), dan Planet (aspek lingkungan). Paradigma ini kemudian berkembang menjadi paradigma global dengan disetujuinya platfrom Sustainable Development Goals (SDGs) 2016-2030 oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015.

Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu proses pembangunan yang lebih inklusif dan kelapa sawit Indonesia, perkebunan kelapa sawit ternyata berperan memperbaiki ketimpangan pendapatan dan pembangunan (Syahza, 2007). Dalam aspek ekonomi, industri minyak kelapa sawit berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dalam bentuk sumber devisa dan pendapatan negara, pembangunan ekonomi daerah, dan peningkatan pendapatan petani, sedangkan dalam aspek sosial, industri minyak kelapa sawit juga telah terbukti secara empiris, antara lain perananya dalam pembangunan pedesaan dan pengurangan kemiskinan (Tomic & Mawardi,1995; Sato,1997; Susila, 2004;Sumarto&Suryahadi,2004; Joni, 2012; World Growth,2009,20011,PASPI,2014). Dalam aspek ekologi, perkebunan sawit menyumbang pada pembangunan berkelanjutan melalui peranannya dalam menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen (Henson, 1999; Harahap dkk., 2005; Fairhust & Hardter, 2004). Jasa lingkungan yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit tersebut, seperti kelestarian siklus oksigen, kelestarian karbon dioksida, kelestarian daur hidrologi yang merupakan bagian penting  dari ekosistem global. Semakin luas dan menyebar perkebunan kelapa sawit, semakin besar dan menyebar penyerapan karbon dioksida dan produksi oksigen perkebunan kelapa sawit. Dengan demikian, industri minyak kelapa sawit memiliki kontribusi dalam pencapaian  SDGs 2030 Indonesia mencakup aspek ekonomi, sosial, ataupun lingkungan hidup.

Perkebunan kelapa sawit secara built-in memiliki multifungsi, yakni fungsi ekonomi, social,dan lingkungan yang tidak memiliki sektor-sektor lain diluar pertanian. Dengan multifungsi tersebut, perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan bagi pencapaian SDGs tersebut. Secara empiris, kontribusi industri minyak sawit dalam ekonomi antara lain mendorong pertumbuhan ekonomi (nasional dan daerah), sumber devisa, dan pendaptan negara, sedangkan dalam aspek sosial antara lain dalam pembangunan pedesaan dan pengurangan kemiskinan. Peranan ekologis dari perkebunan sawit mencakup pelestarian karbon dioksida dan oksigen, restorasi degraded land konservasi tanah dan air, peningkatan biomassa dan karbon stok lahan, serta mengurangi emisi gas rumah kaca/ restorasi lahan gambut. Dengan paradigma yang komperensif tersebut, industri minyak sawit Indonesia terus tumbuh dalam perspektif berkelanjutan.

 

Citra Sania Br Ginting – Universitas Riau

416 total views, 25 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *