Praktik diskriminasi atau apartheid sudah lama berakhir di planet Bumi. Tokoh dunia anti apartheid yakni Nelson Mandela dari Afrika Selatan saja yang justru didukung penuh oleh Uni Eropa sudah meninggal dan mewariskan era baru di Afrika Selatan hidup berdampingan tanpa diskriminasi.

Ironisnya, Uni Eropa yang sudah kaya raya itu justru membangun kembali politik dagang diskriminasi yang dapat dikategorikan sebagai crop apartheid. Kebijakan Uni Eropa yang melarang penggunaan biodisel sawit dalam kebijakan energi terbarukan (Renewable Energy Directives) yang mulai berlaku tahun 2020 merupakan praktik dagang yang diskriminatif. Mengapa ? Karena kebijakan tersebut hanya berlaku bagi biodiesel sawit dan tidak berlaku bagi biodiesel kedelai, biodiesel bunga matahari, biodiesel rapeseed maupun biodiesel minyak nabati yang lain.

Alasan yang digunakan mengada-ada bahkan makin mempertontonkan arogansi praktik apartheid. Pelarangan biodiesel sawit di Uni Eropa dikaitkan dengan jejak deforestasi dalam menghasilkan minyak sawit. Padahal semua negara, sektor, dan komoditi yang ada di planet bumi memiliki jejak deforestasi.

Studi Matthew (1983) mengungkap bahwa sejak era pra-pertanian dunia sampai tahun 1980 saja, luas deforestasi dunia mencapai sekitar 701 juta hektar dimana sekitar 653 juta hektar atau 93 persen terjadi di daerah sub-tropis (Eropa, Amerika Utara, Rusia dll) dan sisanya, 7 persen  terjadi di daerah tropis. Lahan pertanian daerah sub-tropis, kota-kota di Eropa, Amerika Utara, Rusia, dan China  merupakan hasil dari deforestasi.

Kawasan yang belakangan berkembang juga tidak terlepas dari deforestasi. Studi European Commission (2013) memaparkan bahwa dalam periode 1990-2008 luas deforestasi global mencapai 239 juta hektar. Penyebarannya di Amerika Selatan 33 persen, Afrika 31 persen, Asia Tenggara 19 persen dan kawasan lain 17 persen. Hal yang menarik dari studi ini adalah deforestasi terbesar yakni 71 juta hektar adalah untuk ekspansi padang penggembalaan sapi (ranch) dan ekspansi kebun kedelai di Amerika Selatan.

Apa yang terjadi jika EU benar-benar memberlakukan praktek Apartheid minyak sawit?  Pertama, meningkatkan produksi rapeseed dan bunga matahari baik di EU maupun di kawasan Eropa lainnya (diluar EU). Hal ini berarti areal tanaman bunga matahari dan rapeseed harus diperluas. Dengan produksi minyak rata-rata rapeseed dan bunga matahari hanya sekitar 0.5 ton/ha, maka untuk menggantikan impor 10 juta minyak sawit, diperlukan 20 juta hektar lahan baru untuk kebun bunga matahari dan rapeseed. Hal ini akan mengkonversi lahan hutan (deforestasi) Eropa besar-besaran.

Jika mengganti impor sawit dengan meningkatkan impor minyak nabati lain seperti minyak kedelai dari Amerika Selatan. Jika EU memilih  mengganti impor sawit dengan impor minyak kedelai atau minyak nabati lain, maka untuk menggantikan 10 juta ton minyak sawit memerlukan ekspansi lahan kebun kedelai (atau tanaman biofuel lain) seluas 20 juta hektar. Hal ini berarti menambah konversi (deforestasi ) hutan dunia seluas 20 juta hektar lagi.

Dengan kata lain, jika EU melakukan praktik apartheid sawit, maka EU mensponsori terjadinya deforestasi hutan dunia yang lebih besar lagi yakni 20 juta hektar. Sementara jika EU tidak melakukan politik apartheid  dan tetap mengkonsumsi minyak sawit, tidak perlu lagi tambahan deforestasi hutan dunia karena kebun sawit sudah berproduksi selama ini. Untuk memenuhi kebutuhan 10 juta ton minyak sawit cukup dari 2 juta hektar kebun sawit. Jadi pilihan EU untuk embargo sawit, merupakan pilihan yang lebih jelek (inferior) dari sudut ekonomi dan ekologis. Bahkan pilihan yang kontradiksi dengan tujuan EU itu sendiri. EU mengembargo sawit agar deforestasi berhenti, tetapi ternyata justru memacu deforestasi hutan dunia yang semakin besar.

1,156 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *