Pertemuan antara Parlemen, Dewan dan Komisi Eropa membuahkan kompromi terkait impor minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Pada 14 Juni 2018, ketiga pihak menyepakati akan memberikan tambahan waktu bagi Indonesia dan Malaysia. Kandungan minyak sawit dalam biodiesel nantinya baru akan dilarang sepenuhnya pada 2030. Sebelumnya parlemen Eropa menetapkan akan melarang penggunaan minyak sawit sebagai bahan campuran biodiesel pada 2021.

Jika dilihat selama beberapa dekade, impor minyak sawit Uni Eropa memberi manfaat yang luas bagi Uni Eropa. Kehadiran minyak sawit di Uni Eropa tidak menghilangkan tanaman rapeseed maupun sunflower karena diperlukan sebagai blending dalam konsumsi CPO. Eropa yang telah menghadapi keterbatasan lahan, kehadiran CPO juga akan menghindarkan tanaman rapeseed dan sunflower terlalu ekspansif, yang menggerogoti lahan pangan lainnya yang dapat mengancam penyediaan pangan Eropa, sebagaimana dikhawatirkan selama ini (OECD/FAO, 2007). Masyarakat Uni Eropa juga diuntungkan dengan kehadiran CPO karena dapat menikmati harga minyak nabati komposit yang lebih murah dibandingkan jika hanya ada rapeseed dan sunflower.

Kehadiran minyak sawit juga mengurangi masalah trade-off fuel-food yang dihadapi negara-negara maju termasuk Uni Eropa. Sebagaimana analisis OECD (2007) jika EU mengurangi 10 persen saja konsumsi BBM fosil dan digantikan dengan biofuel (sebagaimana EU energy directive) Uni Eropa harus mengkonversi 70 persen lahan pertaniannya menjadi tanaman minyak nabati. Sedangkan untuk mensubsitusi 10 persen diesel dengan biodiesel berbasis kedelai, USA harus mengkonversi 30 persen lahan pertaniannya untuk kebun kedelai, sehingga akan mengganggu ketahanan pangan USA dan EU bahkan secara global. Dengan ketersediaan minyak sawit secara internasional program subtitusi BBM fosil dengan biodiesel dapat dilakukan Uni Eropa dan USA tanpa mengkonversi lahan pertaniannya. Hal ini untuk Uni Eropa telah terkonfirmasi dimana sekitar 38 persen impor minyak sawit EU dipergunakan untuk energi baik biodiesel maupun listrik.

Selain itu, ketersediaan minyak sawit di negara-negara maju juga menciptakan manfaat ekonomi di negara-negara importir. Untuk Uni Eropa misalnya, manfaat ekonomi yang tercipta di EU akibat penggunaan minyak sawit setiap tahun meningkatkan GDP Uni Eropa sebesar 5,7 miliar Euro, menciptakan penerimaan pemerintah 2,6 miliar Euro dan menciptakan kesempatan kerja 117 ribu orang.

Lantas apa yang terjadi jika Eropa benar-benar menghentikan penggunaan minyak sawit? Pertama, dengan tidak mengimpor minyak sawit, Uni Eropa terancam tidak lagi mendapatkan manfaat ekonomi yang lumayan besar setiap tahunnya dari sawit.

Kedua, untuk mengganti sawit dengan cara meningkatkan produksi rapeseed dan bunga matahari baik di EU maupun di kawasan Eropa lainnya (diluar EU). Hal ini berarti areal tanaman bunga matahari dan rapeseed harus di perluas. Dengan produksi minyak rata-rata rapeseed dan bunga matahari hanya sekitar 0.5 ton/ha, maka untuk menggantikan impor 10 juta minyak sawit, diperlukan 20 juta hektar lahan baru untuk kebun bunga matahari dan rapeseed. Hal ini berarti akan mengkonversi lahan hutan (deforestasi) Eropa besar-besaran.

Ketiga, Jika mengganti impor sawit dengan meningkatkan impor minyak nabati lain seperti minyak kedelai dari Amerika Selatan. Jika EU memilih pilihan kedua ini mengganti impor sawit dengan impor minyak kedelai atau minyak nabati lain, maka untuk menggantikan 10 juta ton minyak sawit memerlukan ekspansi lahan kebun kedelai (atau tanaman biofuel lain) seluas 20 juta hektar. Hal ini berarti menambah konversi (deforestasi) hutan dunia seluas 20 juta hektar lagi.

754 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *