Berada di garis khatulistiwa menjadikan Indonesia memiliki iklim tropis. Daerah tropis adalah daerah yang sangat cocok untuk perkembangan pertanian dibandingkan dengan daerah lain di dunia. Karena daerah tropis memiliki pencahayaan matahari yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Alasan ini menjadikan Indonesia sebagai Negara agraris dimana penduduknya mayoritas memiliki mata pencaharian di sektor pertanian

Salah satu komoditi pertanian yang perkembangannya sangat pesat ialah komoditi kelapa sawit. Industri perkebunan kelapa sawit telah menjadi primadona dikarenakan beberapa faktor diantaranya adalah lahan dan iklim di Indonesia yang mendukung serta profit atau keuntungan yangt bisa didapat oleh pemilik usaha atau kebun kelapa sawit. Sepanjang periode 2000-2017, luas lahan kelapa sawit Perkebunan Rakyat (PR) mencatat pertumbuhan 12,21% per tahun, kemudian Perkebunan Besar Negara (PBN) tumbuh 3,57%/tahun dan PBS meningkat 11,14% per tahun. Alhasil, luas lahan kelapa sawit nasional mencatat pertumbuhan 10,21% per tahun.

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian mencatat luas tanaman menghasilkan (TM) kelapa sawit pada akhir 2017 mencapai 9,26 juta Ha. Sedangkan produksi seberat 35,36 juta ton. Alhasil, produktivitas kelapa sawit nasional mencapai 3.817 ton/ha. Secara rata-rata sepanjang periode 1995-2017 produktivitas perkebunan kelapa sawit Indonesia hanya tumbuh 0,72% per tahun Sementara menurut status pengusahaannya, luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 12,31 juta ha. Jumlah tersebut terdiri dari 6,8 juta ha merupakan perkebunan besar swasta (PBS), 4,76 juta ha perkebunan rakyat (PR) dan 752 ribu ha berupa perkebunan besar negara (PBN).

Riau merupakan salah satu wilayah yang memiliki luas perkebunan kelapa sawit terbanyak di Indonesia dengan seluas 1,44 juta hektar perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh Perkebunan Rakyat (PR) Kontribusi yang mampu diberikan terhadap produksi CPO tahun 2015 sebesar 3,85 juta ton. Kondisi ini, merupakan prestasi yang mumpuni dan membanggakan, lantaran rakyat mampu berdaulat terhadap kepemilikan lahan di daerahnya sendiri.

Dengan luas wilayah perkebunan kelapa sawit PR sekitar 27,9% dari total wilayah di Riau, dapat dipastikan bahwa kehidupan dan perekonomian masyarakat di provinsi Riau sangat bergantung pada komoditi kelapa sawit. Namun timbul satu pertanyaan yang mungkin akan muncul pada saat ini. Apa jadinya jika kelapa sawit tidak ada di provinsi Riau?

Berdasarkan data dari direktorat jendral perkebunan,Luas Perkebunan kelapa sawit di Riau pada tahun 2018 adalah 2,739,571 ha. Dengan ekspor minyak sawit mentah dan turunannya mencapai 32,02 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 3,2 persen dibandingkan tahun 2017.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor CPO tahun lalu sebesar US$ 17,89 miliar atau turun sebesar 12,02 persen jika dibandingkan capaian pada 2017 sebesar US$ 20,34 miliar, sementara Gapki mencatat ekspor sawit CPO sebagai bahan baku pada tahun lalu berkontribusi sebesar 22%, oleochemical 3%, biodiesel 1%, sehingga ekspor 74% lainnya dalam bentuk minyak kelapa sawit olahan.

Sementara itu, diungkapkan oleh Irwan Mulawarman, Deputi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Riau bahwa 39,31 persen produk domestik regional bruto (PDRB) atau struktur ekonomi Riau ditopang dari sektor pertanian termasuk didalamnya perkebunan sawit, industri pengolahan dan produk turunannya.

Meskipun melihat dari kebutuhan masyarakat saat ini, yang lebih dibutuhkan adalah industri pertanian dari sektor tanaman pangan dan hortikultura dikarenakan kita masih bergantung suplai bahan pangan dan tanaman horti dari sumatera barat dan provinsi lainnya, adanya suplai dari dalam daerah namun jumlahnya masih belum memadai atau mencukupi akan kebutuhan masyarakat riau. Masyarakat yang memiliki lahan luas pun cenderung untuk menanami dengan kelapa sawit yang dinilai lebih menguntungkan diandingkan komoditi lain.

Dari data diatas rasanya sudah dapat dipahami bahwa secara logis dan secara kondisi, fakta bahwa kebutuhan akan industri perkebunan kelapa sawit masih sangat penting dan menjadi yang utama bagi Indonesia khususnya di provinsi Riau. Bisa dibayangkan lonjakan yang signifikan akan terjadi bila kelapa sawit tak ada lagi yang tentunya berdampak pada penurunan pemasukan daerah dan Negara serta hal-hal yang tidak diinginkan. Kini yang perlu menjadi perhatian adalah dikarenakan hasil industri kelapa sawit saat ini yang dominan di ekspor adalah hasil dalam bentuk mentah. Bagaimana agar kedepannya hasil perkebunan kelapa sawit tidak hanya di ekspor dalam bentuk mentah, tetapi juga dalam bentuk produk turunannya sehingga dapat memberikan nilai lebih. Mari kita optimalkan potensi yang ada di provinsi Riau demi kemajuan dan perbaikan industri pertanian yang lebih baik.

 

Ismail Kurniawan – Universitas Riau

465 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *